Posted in 1, Lintasan Pikiran, tulisan SERIUS

SELEKSI CALEG DAN ASA PUBLIK

Oleh : Syamsul Ma’arief

“Mempunyai DPR yang kuat, berkualitas, dan berintegritas tidak cukup hanya dengan berharap semata, tapi perlu terus dikawal dan diperjuangkan oleh publik itu sendiri.”

Senin, 22 April 2013, ribuan nama bakal calon anggota legislatif (caleg) DPR RI telah didaftarkan oleh seluruh partai politik peserta Pemilu ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Ribuan bakal caleg tersebut akan bertarung untuk memperebutkan 560 kursi yang tersedia di Senayan. Hal yang perlu diapresiasi dalam pendaftaran ini adalah secara hitungan kasar, pendaftaran ribuan bakal caleg tersebut telah memenuhi persyaratan yang diatur dalam UU Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD dan DPRD, yaitu memuat paling sedikit 30% keterwakilan perempuan. Hal ini terlihat dari 6.576 bakal caleg yang didaftarkan, sebanyak 2.434 orang diantaranya adalah perempuan.

Kegagalan Proses Seleksi

Namun, pendaftaran bakal caleg ini bukanlah tanpa masalah. Setidaknya ada tiga masalah krusial yang turut mewarnai proses pendaftaran bakal caleg pejuang aspirasi rakyat ini. Pertama, kegagalan partai politik dalam menjalankan fungsi kaderisasi internal partai. Hal ini terlihat dari masih munculnya nama bakal caleg yang berasal dari eksternal partai, seperti dari kalangan artis, pengusaha, atau politisi kutu loncat dari partai lain. Bahkan ada pula partai politik yang turut mendaftarkan mantan narapidana sebagai bakal caleg dari partainya.

Hal ini jelas merupakan penyimpangan serius yang terjadi dalam tubuh partai tersebut, karena secara sadar telah mengabaikan potensi dan pengorbanan kader internal partai yang telah turut berjuang membesarkan partai. Hanya karena bermodalkan popularitas dan kedekatan personal, kader “karbitan” tersebut menelikung di tikungan terakhir dan menjadi bakal caleg yang mengesampingkan kader loyal partai.

Kedua, kegagalan partai politik dalam mereduksi budaya transaksional. Proses demokrasi dan sistem politik bangsa kita hari ini menyebabkan ongkos politik yang begitu mahal. Salah seorang aleg DPR RI bahkan pernah menyampaikan bahwa modal yang dibutuhkan untuk maju sebagai caleg adalah sekitar Rp 1 Miliar. Biaya tersebut untuk memenuhi kebutuhan biaya akomodasi ke daerah pemilihan, biaya logistik dan atribut kampanye, biaya bantuan sosial untuk masyarakat, biaya pengumpulan massa dan biaya saksi di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Kesimpulan aleg tersebut, tidak ada caleg yang bisa terpilih dengan hanya bermodalkan dengkul saja.

Tidak hanya untuk kalangan eksternal, budaya transaksional ini juga berpengaruh pada internal partai. Tidak cukup hanya saling sikut berebut nomor urut, bahkan terjadi perusakan kantor partai oleh kadernya sendiri. Hal ini disebabkan proses penjaringan bakal caleg yang cenderung tertutup dan hanya berkisar di kalangan elit pimpinan partai saja. Aspirasi kader akar rumput diabaikan karena bakal caleg yang mampu membayar lebih besar telah ditetapkan sebagai bakal caleg urutan teratas. Sedangkan yang setorannya rendah hanya dipasang sebagai penggembira pemenuh kuota saja di nomor buncit.

Ketiga, kegagalan partai politik dalam memberikan pendidikan politik bagi masyarakat. Kegagalan ketiga ini merupakan puncak dari penyimpangan yang dilakukan oleh partai, yang seharusnya memberikan proses pembelajaran dan pemahaman tentang hak, kewajiban dan tanggung jawab setiap warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun dalam praktiknya, sebagian oknum partai politik malah disibukkan dengan konflik internal partainya, “memamah biak” budaya transaksional, dan mengajarkan budaya pragmatisme kepada masyarakat melalui siasat money politics ketika masa kampanye berlangsung. Yang menjadi pertanyaan besar kita saat ini adalah masihkah ada asa yang dapat kita gantungkan kepada bakal caleg yang lahir dari proses karut marut seperti ini ?

pemilu 2014

Peran Serta Masyarakat

Oleh karena itu, mempunyai DPR yang kuat, berkualitas, dan berintegritas tidak cukup hanya dengan berharap semata, tapi perlu terus dikawal dan diperjuangkan oleh publik itu sendiri. Hal ini sejalan dengan seruan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum kaum tersebut mengubah nasibnya dengan tangan mereka sendiri.

Maka diperlukan suatu ikhtiar aktif untuk meraih impian diwakili oleh anggota legislatif yang berkualitas dan berintegritas. Ikhtiar pertama adalah dengan memberikan segala informasi terkait rekam jejak bakal caleg, sebelum ditetapkan sebagai caleg pada bulan Juni 2013 mendatang. Jika bakal caleg tersebut terindikasi pernah melakukan tindak pidana dan/atau perbuatan tidak bermoral lainnya, maka segera laporkan kepada partai pengusungnya untuk dibatalkan. Hal ini agar caleg yang ditetapkan nanti merupakan orang-orang terpilih dan terbaik dalam hal kredibilitas.

Ikhtiar kedua adalah dengan mencatat dan mengkritisi seluruh janji kampanye yang disampaikan oleh caleg tersebut. Apa saja janji manis yang disampaikannya? Bagaimana cara merealisasikan janjinya? Kapan batas waktunya sampai terlaksana? Proses aktif ini harus dilakukan tidak hanya kepada satu caleg dari satu partai politik saja, tapi juga kepada caleg partai politik lain yang berasal dari daerah pemilihan tersebut.

Masyarakat juga perlu lebih waspada dan cerdas dalam menyikapi upaya black campaign dan/atau money politics yang terindikasi dilakukan oleh oknum caleg tertentu. Jangan mudah terprovokasi dan terpengaruh oleh siasat murahan tersebut. Jatuhkan pilihan kepada aleg karena keyakinan dan rasionalisasi yang jelas, bukan karena pencitraan dan bujuk rayu pada masa kampanye. Lima menit menentukan pilihan di TPS, akan berdampak pada nasib kita selama lima tahun selanjutnya.
Akhir kata, semoga proses pemilihan umum pada tahun 2014 nanti akan berlangsung secara jujur dan adil, sehingga menghasilkan DPR yang kuat, berkualitas, dan berintegritas, serta anggota legislatif yang mencintai rakyat, dan rakyat pun mencintainya. Aamiin. ***

Penulis:

#FHUNPAD #UNITEDARMY

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s