Posted in 1, Renungan Kehidupan

KEKUATAN FANATISME “NU AINK”

Buruk-buruk papan jati. Peribahasa sunda tersebut merupakan suatu penegasan bahwa seburuk atau sejelek apapun hal yang melekat pada diri dan lingkungan sekitar kita, hal tersebut tetaplah bagian yang tidak terpisahkan dari hidup kita. Bahkan mungkin merupakan takdir terbaik Allah atas hambaNya.

Sikap pembelaan dan penolakan setiap manusia pada dasarnya berbeda satu sama lain, namun seringkali ada satu titik yang mempertemukan setiap perbedaan tersebut. Bisa karena kesamaan nasib, hobi, kecintaan maupun kebencian.

Ambil contoh bobotoh pendukung Persib Bandung. Karena kesamaan asal daerah, kesamaan hobi terhadap bola, maka bisa meleburkan berbagai perbedaan yang ada di antara para pendukung sejatinya. Maka dihasilkanlah suatu fanatisme dan dukungan totalitas bagi tim tercinta : Eleh Meunang, Persib nu Aink!

Kesadaran akan kekuatan fanatisme ini pada akhirnya menghasilkan energi yang sangat luar biasa. Ada cinta tanpa syarat, kebanggaan, harga diri (‘izzah), serta pembelaan atas setiap pelecehan maupun penghinaan yang mengarah padanya. Pembelaan ini bahkan mengabaikan rasa sakit, mengorbankan waktu dan harta, bahkan nyawa sekalipun.

Maka tidak heran, sejarah peradaban manusia mencatat bahwa hanya orang-orang yang memiliki cinta dan fanatisme yang kuatlah yang akan menang. Kalaupun mereka kalah, mereka tetap dikenang sebagai seorang pejuang. Tiada rasa malu atau terhina atas kekalahannya di medan perang.

Lihatlah Umar Mukhtar di Libia, William Wallace di Irlandia, Che Guevara di Kuba, Teuku Umar dan Mohammad Toha di Indonesia. Kematian mereka bukanlah suatu kekalahan, namun merupakan suatu pemicu kemenangan generasi setelahnya. Mereka bangga bisa berjuang dan berkorban untuk hal yang dicintainya : agama dan bangsa.

Maka cintailah dan lakukan pembelaan totalitas terhadap “papan” kita, karena ia tetaplah “jati”. Jati diri yang tak terpisahkan dari kehidupan kita. Perbaikilah setiap kekurangannya, kemudian sempurnakan setiap kebaikannya. Rangkul mereka yang ikut mencintainya, dan “pukul” mereka yang menghinanya.

Dan dengan bangga saya ingin menyampaikan kepada seluruh dunia “papan jati” saya : Islam nu Aink! Indonesia nu Aink! Bandung nu Aink! Sunda nu Aink! Unpad nu Aink! KAMMI nu Aink! MU nu Aink! Persib nu Aink!

“Musuh jangan dicari, tapi kalo datang jangan lari..” LAWAN! SIKAT!

 

Hasta La Victoria Siempre…

House of Movement, 27 Oktober 2012 09:38

-Akira Dalta-

Penulis:

#FHUNPAD #UNITEDARMY

3 thoughts on “KEKUATAN FANATISME “NU AINK”

  1. orang orang baik seperti Umar Mukhtar di Libia, William Wallace di Irlandia, Che Guevara di Kuba, Teuku Umar dan Mohammad Toha di Indonesia selalu punya kisah sentimentil buat dikenang.

    kata anis matta, kalau ngga salah, mengenang pahlawan adalah buah dari balas budi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s