Posted in 1, Lembar KAMMI, Lintasan Pikiran, Renungan Kehidupan, tulisan SERIUS

Omong Kosong Tentang “Surga”

Bismillah wa Astaghfirullah…

Pekan ini, setidaknya ada 2 postingan FB yang mengusik kesadaran saya..Postingan pertama adalah tentang pengelolaan organisasi da’wah secara profesional..sedangkan posting kedua adalah mengenai prioritas da’wah bagi para aktivisnya..

Dari postingan yang pertama, bergulir pada diskusi mengenai gaji..profesionalisme tentu akan berbanding lurus jika diiringi pula dengan pemberian gaji yang profesional..namun hal ini dibantah dengan asumsi bahwa gaji bagi aktivis da’wah adalah “Surga”..katanya itu lah sebaik-baik balasan dari Allah..adakah yang salah? bagi orang-orang yang (mengaku) beriman, tentu saja tidak ada yang salah dengan pernyataan tersebut..bahkan itu adalah semulia-mulianya tujuan akhir dari seluruh amalan dan ibadah manusia di dunia..

Sedangkan posting yang kedua berbicara mengenai prioritas da’wah..redaksional postingnya seperti ini :

Mari kita perbaiki
jalanan berlubang dan sediakan sanitasi yang bagus
sebelum berpikir memaksakan perempuan
berkerudung…

Ada hentakan kesadaran dari postingan anak muda itu..terlepas apakah ia mengutipnya dari suatu sumber atau berasal dari pendapatnya pribadi..namun lagi-lagi dicetuskan bantahan pesimisme dengan mengatakan bahwa untuk melakukan hal tersebut perlu dana yang besar..

Ada hal yang kontradiktif dari kedua postingan tersebut..meskipun diposting oleh 2 orang yang berbeda,namun keduanya memiliki identitas yang sama, yaitu sebagai “Aktivis Da’wah”..tentunya para aktivis da’wah dituntut memiliki keyakinan yang kuat terhadap ideologinya, aqidahnya, ilmunya, imannya..termasuk di dalamnya keyakinan terhadap “surga” dan rizki dari Allah SWT..

Lalu bagaimana mungkin kita bisa yakin akan janji “surga” dari Allah, tapi masih tidak yakin akan janji rizki dari Allah? bukankah Allah telah berjanji dalam QS Muhammad ayat 7 :

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. 

Omong Kosong

Lalu, pada bagian mana yang saya maksud dengan “Omong Kosong tentang Surga”?  Seringkali saya berpendapat, bahwa “iman” itu adalah “klaim” atau “pengaku-(ngaku)an” dari orang yang meyakininya..maka akan sulit rasanya memaksakan “klaim iman” kita kepada orang lain..mempercayai dan meyakini akan janji Allah mengenai surga dan rizki, tentu saja merupakan kewajiban bagi aktivis da’wah..namun bagaimana para aktivis da’wah ini lantas mampu mengimplementasikan “klaim iman” ini pada orang-orang yang belum atau bahkan menolak meyakininya?

Bagaimana kita akan menjawab pertanyaan : “gak usah ngawang-ngawang ngomongin surga! kayak yang udah pernah masuk surga aja?” atau bagaimana kita kelak akan menghadapi pernyataan : “mas, kita gak butuh dalil dan ayat,apalagi janji surga..sekarang mah kongkrit aja, saya lapar, istri saya sakit, anak saya butuh sekolah!!ente bisa bantu apa?!”

Jika kita masih belum mampu menjawab keluh kesah di atas, maka alangkah kerdilnya kita di hadapan Allah dan surgaNya..apa kira-kira amalan terbaik kita yang dapat ditukar dengan tiket surga?dan bagaimana kelak kita akan mempertanggungjawabkan seluruh amanah yang telah dititipkanNya kepada kita selaku Aktivis Da’wah?  Jangan sampai kita asyik dengan kesholihan pribadi kita, kemudian lantas melupakan hak-hak mereka yang membutuhkan pembuktian “klaim iman” kita..karena hakikatnya iman itu tidak cukup diyakini di hati dan diucapkan lewat lisan, tapi juga dibuktikan dengan amal.. 

Jangan sampai kita kelak dicap dan tergolong kepada orang-orang yang senantiasa berbicara Omong Kosong tentang “Surga”…

Wallahua’lam bishshawwab..

Di Bawah Teriknya Mentari, 21 Mei 2012

Hasta La Victoria Siempre

-Akira Dalta-

Penulis:

#FHUNPAD #UNITEDARMY

2 thoughts on “Omong Kosong Tentang “Surga”

  1. Ini ada komentar dari ikhwah di forum lain (kebetulan tulisan ini di-‘share’ di forum tersebut):

    Saya pernah dengar ceramahnya Salim A. Fillah yang menjelaskan ttg tafsir dari para ulama thd QS An Nahl:125. Penjelasan mereka tentang pengertian berda’wah dgn hikmah. Kata “hikmah” disitu maknanya adalah sesuatu yang dianggap bermanfaat dari sudut pandang mad’u. Misalnya kita ngasih bantuan makanan ke org2 yg kelaparan, makanan itu adalah hikmah”,jadi kita ga bisa dengan gampangnya lgsg bilang ke org2 yg sulit makan itu,”sabar ya bu,pak,Allah beserta org2 yg sabar,”..nanti ga nyambung..

    Inilah yg sebenarnya juga dicontohkan oleh Rasulullah saw, Beliau itu membebaskan budak, memberi makan fakir miskin dan anak yatim, dan amal2 sosial lain.

    Wallahu a’lam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s