Posted in Lembar KAMMI, tulisan SERIUS

Reformasi Belum MATI..!!

Oleh : Syamsul Ma’arief S.H.
(Sekjend PW KAMMI Jawa Barat)

Tanggal 21 Mei 1998 merupakan momentum yang sangat penting tidak hanya bagi perjalanan sejarah bangsa tapi juga bagi sejarah pergerakan mahasiswa di Indonesia. Betapa tidak, setelah mendapatkan demonstrasi besar-besaran dari ratusan ribu mahasiswa di seluruh Indonesia, pada tanggal tersebut Presiden Soeharto akhirnya memutuskan untuk lengser ke prabon alias mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia setelah 32 tahun berkuasa. Peristiwa jatuhnya rezim orde baru yang dipimpin Presiden Soeharto tersebut dimaknai sebagai lahirnya orde Reformasi.

Dalam perkembangannya, heroisme gerakan mahasiswa terus mewarnai perjalanan orde reformasi di setiap masa pemerintahan. Mulai dari masa pemerintahan B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarnoputri, hingga Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pengawalan perubahan dan perbaikan terus dilakukan. Keran demokratisasi dan kebebasan pers dibuka seluas-luasnya. Pemberantasan KKN menjadi semangat yang tidak terbendung dalam upaya penegakkan hukum di Indonesia. Begitu pun dengan upaya peningkatan kesejahteraan ekonomi dan kualitas kehidupan di sektor pendidikan dan kesehatan.

Namun kini, nampaknya gairah dan semangat perlawanan gerakan mahasiswa semakin melemah. Gerakan mahasiswa seakan-akan seperti kebingungan di persimpangan jalan. Bahkan seringkali kehilangan momentum. Peristiwa Reformasi 21 Mei setiap tahunnya kerap kali hanya diperingati secara seremoni saja dengan seminar dan aksi sederhana yang tidak membawa dampak perbaikan signifikan bagi masyarakat. Akibatnya pemerintahan yang sedang berkuasa semakin lupa diri dan kehilangan komitmennya untuk menuntaskan agenda reformasi. Agenda pembangunan berjalan lambat, kondisi perekonomian perlahan-lahan terpuruk, para anggota dewan semakin arogan dan memalukan, bahkan proses penegakkan hukum tidak lagi tajam bagi para koruptor.

Padahal meletusnya Reformasi 1998 telah diperjuangkan oleh para seniornya dengan tetesan darah, keringat dan air mata. Tidak saja korban luka, reformasi juga harus ditebus dengan jatuhnya korban jiwa dalam berbagai tragedi ketika berdemonstrasi. Menyikapi keterpurukan ini, nampaknya diperlukan suatu revitalisasi peranan gerakan mahasiswa dalam menuntaskan agenda reformasi. Arbi Sanit dalam menganalisis gerakan mahasiswa sepanjang proses reformasi di Indonesia, mengategorikan dua jenis peran yang perlu kembali dijalankan yaitu sebagai gerakan moral dan gerakan politik. Menurut Arief Budiman, konsep gerakan moral bagi gerakan mahasiswa hanyalah merupakan kekuatan pendobrak, ketika terjadi kemacetan dalam sistem politik. Gerakan moral yang senantiasa berpihak pada kebenaran dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjuangan rakyat.

Namun, Arbi Sanit kembali menekankan pada peran kedua yaitu peran politik mahasiswa yang tidak lagi sebatas pada gerakan moral. Gerakan mahasiswa perlu mengembangkan aksi-aksi politik melalui kerjasama dengan berbagai unsur kekuatan oposisi untuk melanjutkan proses perubahan dalam perjuangan reformasi. Hal ini menjadi penting demi menjaga karakter dasar gerakan mahasiswa sebagai The Universal Opposition yang berfungsi sebagai pengawas yang senantiasa kritis atas setiap kekeliruan yang diproduksi oleh sistem politik, terlepas dari siapapun atau rezim kelompok manapun yang sedang berkuasa.

Maka untuk menjalankan kedua peran strategis tersebut, gerakan mahasiswa nampaknya perlu melakukan beberapa langkah sebagai berikut. Pertama, terus meningkatkan kesiapan dan soliditas internal. Tanpa kesiapan yang kokoh dan soliditas internal, gerakan mahasiswa akan sering mengalami gagap dan kebuntuan bahkan kehilangan momentum dalam melakukan perlawanan. Gerakan yang terbangun hanyalah gerakan reaktif yang latah serta rapuh sehingga mudah dipatahkan dan dilemahkan oleh rezim penguasa.

Kedua, memiliki common enemy dan common goal. Salah satu sebab kesuksesan perjuangan reformasi 1998 adalah karena seluruh elemen pergerakan mahasiswa memiliki satu musuh bersama (common enemy) yang harus dijatuhkan yaitu rezim orde baru yang korup dan dianggap tidak layak lagi untuk mengelola negara. Sehingga dengan adanya musuh bersama tersebut akhirnya melahirkan satu tujuan bersama (common goal) yaitu jatuhnya Presiden Soeharto yang merupakan representasi dari rezim orde baru.

Adanya common enemy dan common goal merupakan suatu keniscayaan agar gerakan mahasiswa hari ini dapat kembali bersatu padu di atas semangat yang sama. Semangat untuk mengembalikan kedaulatan rakyat, mencerdaskan kehidupan bangsa dan juga mewujudkan kesejahteraan serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Inilah common goals gerakan mahasiswa. Siapapun atau pihak manapun yang berupaya menghalangi dan menghancurkan common goals ini harus dianggap sebagai common enemy  yang wajib mendapatkan perlawanan dari seluruh gerakan mahasiswa tanpa terkecuali.

Ketiga, tetap menjaga konsistensi dan idealisme gerakan. Menurut Eep Saefullah Fatah, ada empat tingkatan reformasi yang harus secara konsisten untuk diperjuangkan, yaitu reformasi kepemimpinan nasional, reformasi karakter kekuasaan politik, reformasi perubahan sistemik dan reformasi paradigma. Selain itu, gerakan mahasiswa juga harus tetap menjaga idealisme gerakannya dari resistensi terhadap integrasi yaitu kemampuan gerakan mahasiswa untuk tetap menjaga independensi ideologi, politik, ekonomi, budaya dan institusinya dari kooptasi rezim penguasa.

Kita semua harus menyadari bersama bahwa reformasi adalah perjuangan panjang. Jangan sampai reformasi menjadi satu momentum yang sekali terjadi kemudian kehilangan makna seiring pertambahan hari. Perjuangan menuntaskan agenda reformasi harus terus digelorakan dalam setiap masa pemerintahan dan pergantian kepemimpinan. Jangan sampai ada momentum perlawanan yang kembali terbuang, karena kita semua yakin bahwa reformasi belum mati. Hidup mahasiswa. Hidup rakyat Indonesia.***

Penulis:

#FHUNPAD #UNITEDARMY

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s