Posted in Lembar KAMMI, tulisan SERIUS

Waspadai “Goebbels” di Tubuh KAMMI

Oleh: Syamsul Ma’arief
(Anggota Biasa KAMMI Daerah Bandung)

Bismillah..

Pendahuluan

Sekadar berbagi renungan dari buku yang sedang saya baca ulang. Judulnya “Komunikasi Propaganda” karangan Nurudin (Rosda, 2002). Propaganda sebetulnya sering kita bicarakan. Karena propaganda memang tumbuh di tengah-tengah masyarakat. Ia menjadi bagian dari alat atau teknik berkomunikasi. Walaupun banyak orang tak sadar bahwa yang sedang diperbincangkan itu propaganda.

Propaganda berasal dari bahasa Latin Propagare yang artinya cara tukang kebun menyemaikan tunas suatu tanaman ke sebuah lahan untuk memproduksi tanaman baru yang kelak akan tumbuh sendiri. Dalam Encyclopedia International dikatakan bahwa propaganda adalah suatu jenis komunikasi yang berusaha mempengaruhi pandangan dan reaksi, tanpa mengindahkan tentang nilai benar atau tidak benarnya pesan yang disampaikan. Orang atau pihak yang melakukan propaganda biasa disebut propagandis.

Propaganda itu memang bagaikan peluru yang diarahkan pada titik lemah sasarannya. Atau boleh jadi sasarannya itu tidak sadar kalau dia sedang dipropaganda. Kalau tujuannya baik tidak masalah, tapi bagaimana kalau sebaliknya? Lebih dari itu tampaknya memang propaganda sering dimanfaatkan oleh politisi dan penguasa, untuk tujuan-tujuan tertentu. Adolf Hitler, misalnya, menggunakan propaganda untuk memenangkan perang dan berkuasa.

Kekalahan Jerman pada Perang Dunia I berdampak dalam perjanjian Versailles (1919). Jerman harus membayar ganti rugi akibat perang. Ini membuat rakyat Jerman tidak terima dan merasa terhina. Akibatnya rakyat menghendaki kepemimpinan yang kuat dan bisa mengembalikan martabat bangsa Jerman. Tampillah Hitler dengan propagandanya yang khas.

Dengan propaganda anti Versailles dan menganggap bangsa Jerman di atas segalanya serta didukung oleh militer yang tangguh, Hitler melakukan pembantaian musuh-musuh Jerman. Termasuk adalah bangsa Yahudi yang terbunuh lebih dari 6 juta orang pada tahun 1945. Jerman juga mengadakan ekspansi ke luar negeri dengan menginvasi Austria pada tahun 1938, Cekoslowakia dan Polandia pada tahun 1939.

Propaganda “Goebbels”

Untuk mewujudkan ambisinya tersebut Hitler membentuk sebuah Badan Propaganda yang dipimpin oleh Goebbels. Di bawah kendalinya, Goebbels melakukan propaganda dengan segala cara agar apa yang menjadi tujuan –untuk tidak mengatakan ambisi- partai Nazi terlaksana dengan sentimen emosi pada massa. Bahkan untuk tujuan usahanya tersebut tak tanggung-tanggung dilakukan tanpa mengindahkan kebenaran.

Bukan hanya masalah kebenaran, termasuk apakah propaganda yang dilancarkan bersifat objektif atau tidak, halal atau tidak. Itu semua tidak menjadi soal. Pokoknya apapun dilakukan demi mencapai tujuan. Ia juga tak segan-segan melakukan intimidasi.

Cara dan Tujuan Propaganda Goebbels

Ada beberapa cara dan tujuan propaganda yang dilancarkan oleh Hitler melalui Badan Propaganda pimpinan Goebbels, antara lain:

  1. Propaganda Hitler semata-mata hanya membangkitkan emosi, mengabaikan sama sekali faktor intelektual dan rasio. Sehingga faktor-faktor objektivitas tidak diperhatikan sama sekali. Sebab objektivitas baginya hanya akan menyebabkan kegoyahan keyakinan rakyat, menimbulkan keraguan dan mengantarkan rakyat pada pemberontakan terhadap dirinya
  2. Bagi Hitler hal terpenting dari propaganda adalah terwujudnya (meningkatnya) jumlah pengikut. Oleh karena itu, proses menghalalkan segala cara diperbolehkan. Dia lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas. Di samping itu, ia tidak mementingkan anggota tetapi pengikut. Maka propaganda Nazi ini dianggap tidak mendidik, tidak menanamkan keyakinan akan kebenaran tetapi hanya memabukkan dan menyilaukan.

Untuk mewujudkan ambisinya tersebut Hitler pernah mengemukakan beberapa pokok-pokok propaganda dalam bukunya yang terkenal yakni Mein Kampf sebagai berikut:

  1. Demi mencapai ambisinya tersebut dalam tempo yang cepat, maka pertimbangan humanisme dan estetika harus disingkirkan atau dibuang jauh-jauh.
  2. Propaganda hendaknya jangan ditujukan kepada golongan intelektual yang telah memiliki ilmu pengetahuan yang cukup, melainkan harus ditujukan semata-mata kepada massa rakyat jelata.
  3. Propaganda mesti subjektif. Artinya tidak boleh memberikan bahan perbandingan maupun celah untuk dipikirkan.

Teknik PropagandaGoebbels”

1. Name Calling

Teknik propaganda dengan memberikan sebuah ide atau label sebutan yang buruk. Salah satu ciri yang melekat pada teknik ini adalah propagandis menggunakan sebutan-sebutan yang buruk pada lawan yang dituju.

2. Glittering Generalities

Teknik yang mengasosiasikan sesuatu dengan suatu “kata bijak” yang digunakan untuk membuat kita menerima dan menyetujui hal itu tanpa memeriksanya terlebih dahulu. Misalnya dengan mempropagandakan “Demi keadilan dan kebenaran”, “Demi kesejahteraan rakyat”, “Demi kemajuan organisasi”, dsb.

3. Card Stacking

Teknik yang meliputi seleksi dan kegunaan fakta atau kepalsuan, ilustrasi atau kebingungan dan masuk akal atau tidak masuk akal suatu pernyataan agar memberikan kemungkinan terburuk atau terbaik untuk suatu gagasan, program, manusia dan barang.

4. Bandwagon Technique

Teknik yang dilakukan dengan menggembar-gemborkan sukses yang dicapai oleh seseorang, suatu lembaga, suatu organisasi atau suatu kepengurusan.

5. Using All Forms of Persuations

Teknik yang digunakan untuk membujuk orang lain dengan rayuan, himbauan dan iming-iming. Teknik propaganda ini sering digunakan dalam kampanye menjelang pemilu, kongres atau muktamar.

Benang Merah

Lalu dimana korelasi dari semua penjelasan di atas? Apa bahayanya bagi KAMMI? Pada dasarnya propaganda hanyalah merupakan salah satu metode komunikasi seperti halnya jurnalistik, periklanan, humas dan publikasi. Maka propaganda seperti halnya pisau memiliki efek ganda. Akan berdampak baik manakala digunakan untuk memasak, namun bisa berdampak buruk manakala digunakan untuk kejahatan oleh preman atau pencuri. Propaganda juga bisa diibaratkan sebuah ilmu. Ilmu itu akan menghasilkan kebaikan yang positif jika melekat pada orang yang mempunyai kepribadian baik. Namun propaganda akan menghasilkan kejelekan dan kehancuran manakala melekat pada orang yang tidak baik.

Mengingat urgensinya tersebut, sudah selayaknya seluruh kader KAMMI memahami seluk beluk propaganda. Hal ini bertujuan untuk melatih kesadaran dan kepekaan mengenai propaganda. Jangan sampai organisasi yang kita cintai ini dipropaganda oleh orang atau pihak yang ingin menghancurkan KAMMI. Diskusi,kajian dan kritik merupakan hal yang biasa dan wajar di tubuh KAMMI. Yang menjadi permasalahan adalah jika berkembang isu dan kesimpulan yang destruktif terhadap kesolidan dan kesatuan KAMMI. Menjadi masalah juga jika propaganda dilakukan dengan mengabaikan nilai objektivitas, humanisme dan estetika. KAMMI adalah gerakan dakwah, penggeraknya disebut aktivis dakwah, sehingga propagandanya pun diupayakan tetap santun dan mencitrakan akhlaq Islami.

Pertanyaan terakhir adalah siapa “Goebbels” di tubuh KAMMI yang harus kita waspadai bersama? Mungkin bisa jadi orang tersebut adalah saya, anda, kita atau mereka. Hanya Allah yang Maha Mengetahui isi hati setiap insan. Hanya satu hal yang perlu kita sadari dan perjuangkan bersama, bahwa kita melakukan propaganda dalam rangka kecintaan kita terhadap organisasi KAMMI, organisasi yang membuat kita dapat berdiri tegak memperjuangkan kemenangan Islam. Islam Uber Alles. Wallahua’lam.***

Penulis:

#FHUNPAD #UNITEDARMY

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s