Posted in Lintasan Berita, Renungan Kehidupan, tulisan SERIUS

Piala AFF dan Naturalisasi Pemerintahan Indonesia

Oleh : Syamsul Ma’arief
Ketua Umum KAMMI Daerah Bandung

Beberapa pekan terakhir masyarakat Indonesia sedang mengalami histeria atas kemenangan tim sepakbola nasional Indonesia di ajang bergengsi AFF Suzuki Cup 2010. Pada laga perdana timnas Indonesia sukses mengganyang Malaysia dengan skor 5-1. Kemudian pada laga kedua mencukur Laos dengan skor 6-0 dan terakhir memulangkan Thailand dengan skor 2-1. Ketiga pertandingan tersebut terasa begitu emosional karena tidak hanya menyangkut sepakbola, tapi juga menyangkut harga diri dan kehormatan bangsa.

Setidaknya ada dua kunci kesuksesan timnas Indonesia di ajang tersebut. Kunci pertama adalah kelihaian racikan strategi pelatih baru, Alfred Riedl. Riedl menerapkan disiplin yang ketat dan tidak segan-segan memberikan sanksi kepada pemain yang melanggar, baik pemain senior bahkan pemain bintang sekalipun. Selain itu, Riedl juga memberikan kesempatan kepada pemain-pemain muda yang bertalenta, sehingga permainan timnas menjadi semakin agresif dan enerjik.

Kunci kedua adalah masuknya dua pemain baru hasil naturalisasi kewarganegaraan, yaitu Irfan Bachdim dan Christian Gonzales. Keduanya berhasil menjadi ujung tombak yang menakutkan bagi tim lawan. Pasca menghempaskan Malaysia, sontak lahir idola baru di dunia persepakbolaan nasional. Yang paling menarik perhatian adalah sosok Irfan Bachdim, pemain muda keturunan Indonesia-Belanda. Sosoknya yang muda, tampan dan lincah di lapangan hijau cukup membuat popularitasnya melesat cepat.

Dalam lanjutan Piala AFF, di semifinal timnas Indonesia akan menghadapi Filipina. Filipina memang tidak boleh dianggap enteng. Dengan sembilan pemain naturalisasi, Filipina mampu tampil mengejutkan di babak penyisihan Grup B. Mereka mampu menekuk Vietnam 2-0 dan menahan imbang tim yang tiga kali juara Piala AFF, Singapura, 1-1. Dari starting eleven yang dimiliki Filipina, dua winger bersaudara, yakni James dan Phil Younghusband, cukup berbahaya. Maka jika diperhatikan dengan seksama, salah satu kunci keberhasilan Filipina juga adalah naturalisasi pemain.

Sepak bola bukanlah permainan individu, tapi permainan kolektif. Sehingga kemenangan suatu tim bukan semata-mata karena kehebatan satu atau dua orang pemain saja, tapi juga sembilan pemain lainnya. Namun kehadiran pemain-pemain naturalisasi ini jelas memberikan warna tersendiri bagi kemenangan tim. Mentalitas, karakter dan juga gaya permainan yang berbeda dengan putra asli Indonesia menjadi nilai lebih tersendiri. Padahal Indonesia memiliki ratusan bahkan mungkin ribuan putra putri bertalenta yang belum terasah secara baik.

Naturalisasi Pemerintahan

Sayangnya, prestasi di dunia persepakbolaan tidak berbanding lurus dengan prestasi di bidang politik, hukum, ekonomi, sosial dan juga kedaulatan negara. Tarik ulur kepentingan antar partai politik, kesemerawutan penegakkan hukum, kesenjangan ekonomi, anarkisme masyarakat bahkan penyiksaan para pahlawan devisa di luar negeri.

Ironi memang. Padahal para pemimpin negeri ini adalah orang-orang pintar, berpendidikan tinggi dan juga memiliki kesempatan yang banyak untuk membangun negeri ini. Ratusan profesor, doktor, jendral, dan staf ahli telah ditempatkan pada banyak posisi strategis bangsa ini. Puluhan pemilukada juga telah digelar di berbagai daerah. Namun mereka semua masih belum mampu berbuat banyak. Padahal janji politik telah terucap ketika berkampanye. Rakyat pun menaruh harapan dan masa depan mereka pada para pemimpin terpilih, mulai dari tingkat nasional (Presiden), tingkat wilayah (Gubernur), sampai tingkat daerah (Walikota/Bupati).

Sehingga pertanyaan terbesarnya adalah, di mana letak kesalahan pengelolaan negeri ini? Mengapa belum juga ada tanda-tanda kebangkitan negeri ini. Beberapa pihak mungkin akan menyanggah dengan pernyataan klasik bahwa memajukan negeri ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perubahan itu memerlukan proses, proses yang sangat panjang. Namun sampai kapan? Apakah sampai negeri ini hancur berantakan? Apakah harus menunggu seluruh hasil bumi nusantara dirampok sampai habis? Atau jangan-jangan negeri ini hanya mampu berubah dengan revolusi dan reformasi?

Maka jika berkaca pada keberhasilan timnas maju ke babak semifinal Piala AFF, apakah seluruh lapisan pemerintahan harus diganti juga dengan “pemain” hasil naturalisasi? Apakah tidak ada lagi putra bangsa yang mampu mengembalikan kejayaan negeri ini? Jika naturalisasi (kepemimpinan) pemerintahan akan dijadikan solusi instan bagi kemajuan negeri ini, maka seluruh jabatan strategis akan dipegang oleh orang asing, baik sewaan seperti pelatih timnas maupun naturalisasi seperti para pemain. Dan putra bangsa cukup menjadi penonton dan penggembira saja.

Sebagian putra bangsa akan dilatih menjadi pahlawan devisa dan dikirim ke luar negeri. Mahasiswanya akan dididik sebagai mahasiswa apatis, calon pekerja dan menjadi budak di atas tanah airnya sendiri. Politisinya akan dibuat sibuk merampok APBD dan APBN. Para penegak hukumnya akan bermental korup sehingga mudah disuap. Dan para kepala daerah akan konsisten menjalankan amanat konstitusi: “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”. Ya,dipelihara agar tetap ada sebagai komoditas politik ketika pemilu kada. Jika itu menjadi kenyataan, maka alangkah menyedihkannya masa depan negeri ini. Wallahua’lam bishshowwab. ***

Penulis:

#FHUNPAD #UNITEDARMY

3 thoughts on “Piala AFF dan Naturalisasi Pemerintahan Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s