Posted in Renungan Kehidupan

Kesadaran Di Penghujung Hujan

Kusaksikan sepasang kekasih. Mesra. Dimabuk asmara. Prianya begitu tampan. Putih, tinggi dan berkacamata. Sedangkan wanitanya berparas biasa-biasa saja, tapi tak adil juga jika dibilang kurang cantik. Tapi setidak adil apapun penilaianku terhadap wanita itu, pada kenyataannya mereka saling mencintai, saling melengkapi dan berbagi senyum tanpa henti.

Menyaksikan keduanya aku langsung teringat pada istriku di rumah. Wanita sederhana dengan segenap perhatian dan kasih sayangnya. Tanpa sadar aku pun langsung introspeksi diri. Ibuku tidak pernah menyebutku ganteng, saudariku pun tidak pernah menyebutku tampan. Dan memang pada kenyataannya cermin pun tak pernah berdusta. Namun ternyata di tengah berbagai keterbatasanku, ada seorang wanita yang sangat mencintaiku. Tak pernah sekalipun kuragukan cinta dan kasih sayangnya. Begitu tulus. Tanpa pamrih. Yang istriku harapkan hanyalah menyertaiku dalam suka dan duka. Setia menemani sampai salah satu dari kami dijemput sang Maha Cinta.

Sempat kupikir mungkinkah istriku rabun? Tidak bisa melihat rupa wajahku dengan jelas? Jika mau bisa saja istriku menikahi pria lain yang lebih tampan secara fisik ataupun bahkan lebih kaya secara materi. Tapi pilihan itu tidak diambilnya. Pasca kuucap ijab kabul pada Sabtu pagi yang cerah, 2 Agustus 2008, sejak saat itulah ia memutuskan jalan hidupnya. Memutuskan untuk senasib dan serasa denganku, mahasiswa abadi yang belum berpenghasilan tetap. Mahasiswa yang kerjanya hanya sibuk rapat dan berorganisasi. Bahkan berulangkali bolos kuliah karena harus ikut aksi. Entah kelebihan apa yang ia lihat dariku.

Dan setelah melihat sepasang kekasih itu akhirnya aku pun menyadari. Terkadang cinta itu tak bisa diterima oleh akal sehat. Sejauh apapun jurang perbedaan yang ada, cinta yang akan menjadi jembatan penghubungnya. Sebesar apapun kekurangan yang dimiliki, cinta yang akan melengkapinya bahkan menyempurnakannya. Tak peduli apa kata dunia. Cinta, perlahan tapi pasti akan tumbuh seiring pertambahan hari. Kini 9 bulan sudah istriku mengandung. Dokter mengatakan insya Allah anak kami berjenis kelamin wanita. Tak sabar rasanya kunanti kehadirannya, bintang kecilku, Tsurayya. Selamat datang cinta, selamat datang harapan baru.

Teruntuk permata hatiku, Intan Rostiani.

Di Penghujung Hujan, Bandung 29 Oktober 2010.

Penulis:

#FHUNPAD #UNITEDARMY

2 thoughts on “Kesadaran Di Penghujung Hujan

  1. Assalaam’alaikum,

    Subhanallah tulisannya membuat saya inget anak istri..đŸ™‚
    btw, Mohon maaf jika tidak pada tempatnya..

    Apakah Mas Syamsul masih bergabung dengan PAHAM?
    mohon informasi, bagaimana caranya saya dapat berkonsultasi dengan PAHAM.

    Jazzakallah..

    Wassalaam..

    1. wsslm..wr..wb..alhamdulillah jika bermanfaat kang..=) ya alhamdulillah saya masih di PAHAM Bandung kang..untuk konsultasi dan informasi, add aja akun FB Paham Bandung..insya Allah di sana ada nomor kontak yang bisa dihubungi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s