Posted in tulisan SERIUS

Mudik Sebagai Akselerator Kemajuan Desa

oleh: Syamsul Ma’arief
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..”
(QS Ar-Ra’d : 11)

Ramadhan telah berada pada penghujungnya. Sebagai penutupnya, akan segera tiba hari raya Idul Fitri. Salah satu hari raya terbesar umat Islam. Berbagai persiapan pun dilakukan untuk menyambut hari raya tersebut. Mulai dari menyiapkan menu makanan dan kue khas Idul Fitri, membeli pakaian baru, menyebarkan ucapan selamat hari raya, dan yang tidak kalah penting serta menjadi ritual wajib bagi para perantau yaitu mudik.

Mudik merupakan suatu aktivitas perjalanan pulang ke kampung halaman. Mudik pada umumnya dilakukan oleh warga kota yang merupakan perantau. Dalam perantauannya di kota, ada yang menjadi pelajar, mahasiswa, pedagang, buruh, ataupun karyawan sebuah perusahaaan. Dengan berbagai latar belakang dan keahliannya, para perantau ini mengadukan nasibnya ke kota-kota besar. Mereka pada umumnya tertarik dengan kemajuan, kesuksesan dan juga kesejahteraan yang telah didapatkan oleh saudara ataupun tetangganya yang telah merantau terlebih dulu.

Dalam perantauannya, ada yang menjadi sukses namun tidak sedikit pula yang menjadi gagal dan terlunta-lunta di kota. Bagi mereka yang sukses, maka mudik dapat menjadi akselerator bagi kemajuan desanya. Dengan mudik, mereka dapat berbagi ilmu dan pengalamannya di kota tentang berbagai kemajuan dan juga perubahan paradigma pemikiran, pola dan gaya hidup, akses informasi, serta peluang usaha.

Akselerator Kemajuan

Para pemudik yang berasal dari kota secara langsung atapun tidak langsung akan membawa perubahan bagi masyarakat di desa yang merupakan kampung halamannya. Ketika pulang ke desanya, masyarakat akan terpengaruh dengan kemajuan dan kesuksesan yang telah diperolehnya selama merantau di kota.

Hal pertama yang cukup berpengaruh adalah mengenai perubahan paradigma pemikiran. Bagi pemudik yang merupakan pelajar dan mahasiswa, masyarakat pedesaan akan semakin tercerdaskan dan paham akan urgensi pendidikan. Seiring dengan pesatnya persaingan zaman, pendidikan menjadi salah satu faktor kunci meraih kesuksesan. Misalnya untuk mengikuti tes penerimaan karyawan baru, tes CPNS, tes TNI atau Polri, maka dibutuhkan pendidikan minimal SMU atau sederajat. Bahkan dalam perkembangannya beberapa instansi menaikkan syarat minimum pendidikannya menjadi Diploma atau Sarjana. Jadi jika hanya bermodalkan keahlian saja namun tanpa ditunjang oleh pendidikan formal di bangku sekolah atau bangku kuliah, para perantau ini hanya akan mendapatkan pekerjaan dengan hasil yang pas-pasan. Bahkan mungkin saja keahliannya tidak terpakai kemudian akan semakin terpuruk dengan menjadi gelandangan atau preman di kota tersebut.

Hal kedua yang akan membawa kemajuan pada masyarakat pedesaan adalah perubahan pola dan gaya hidup. Bagi pemudik yang merupakan buruh atau karyawan di sebuah perusahaan, mereka akan menularkan nilai-nilai profesional, disiplin, integritas, kejujuran, tanggung jawab dan juga kerja sama. Tidak ada lagi waktu yang terbuang percuma untuk berleha-leha. Tidak ada lagi tindakan atau pekerjaan yang diambil tanpa perencanaan yang matang. Seluruh waktu, tenaga dan pikirannya tercurahkan secara efektif dan efisien. Sehingga hasil akhir pekerjaannya pun akan lebih maksimal dan berkualitas. Dalam perantauannya di kota, para pemudik ini menyadari bahwa tidak saja dibutuhkan kerja keras, tapi juga dibutuhkan kerja cerdas dan kerja tuntas.

Hal ketiga yang dapat menjadi akselerator kemajuan masyarakat pedesaan adalah akses informasi serta peluang usaha. Para pemudik biasanya membawa ponsel, laptop dan alat komunikasi lainnya yang merupakan barang cukup aneh dan mewah karena jarang ditemukan di pedesaan. Para pemudik yang merupakan pedagang atau pebisnis seringkali memanfaatkan kecanggihan teknologi saat ini untuk memaksimalkan keuntungan usahanya. Hal ini akan berdampak pada perubahan paradigma masyarakat tentang urgensi serta manfaat yang akan didapat dari alat komunikasi tersebut.

Masyarakat dapat mengetahui prakiraan cuaca, perkembangan dunia usaha, fluktuasi harga hasil pertanian dan peternakan, serta informasi peminjaman modal untuk usaha kecil dan menengah. Manfaatnya, masyarakat akan terhindar dari jeratan para tengkulak atau rentenir yang cenderung merugikan para petani dan peternak, dengan membeli hasil usahanya di bawah harga pasar.

Para pemudik yang merupakan pelajar atau mahasiswa pun dapat berbagi ilmu pengetahuan yang didapatnya dari dunia pendidikan. Mereka dapat mengajarkan dan memberikan penyuluhan pada masyarakat pedesaan mengenai cara bercocok tanam yang baik, cara berternak yang sehat, dan juga cara melakukan pembukuan atau pencatatan sederhana mengenai perkembangan usahanya. Dengan demikian, masyarakat akan semakin terberdayakan dan dapat lebih mengoptimalkan hasil usahanya.

Maka, selain dapat menyambung tali silaturahmi dengan orang tua, saudara serta tetangga di pedesaan, mudik juga diharapkan dapat menjadi akselerator bagi kemajuan desanya masing-masing. Dan yang terpenting adalah hikmah serta perubahan positif yang akan didapatkan oleh masyarakat di pedesaan demi kemajuan kampung halamannya tercinta. Wallahua’lam bishshawwab.***

Penulis:

#FHUNPAD #UNITEDARMY

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s