Posted in Lembar KAMMI, Lintasan Berita, tulisan SERIUS

Pemimpin yang Berdaulat

Oleh Syamsul Ma’arief
Ketua Umum KAMMI Daerah Bandung

Menjelang peringatan hari kemerdekaannya, Indonesia kembali mendapat ujian yang cukup berat dari negara tetangganya, Malaysia. Tiga petugas Dinas Kelautan dan Perikanan Kepulauan Riau ditangkap dan disandera oleh Polisi Diraja Malaysia. Ketiga petugas ini ditahan oleh Kepolisian Air Malaysia ketika mereka menangkap tujuh nelayan Malaysia yang diduga melakukan pencurian ikan di perairan Bintan Indonesia.

Dan entah disengaja atau tidak, tepat pada hari perayaan kemerdekaan ke-65 Republik Indonesia ketiganya pun merdeka. Ketiganya diperbolehkan pulang ke Tanah Air setelah empat hari mendekam di Markas Kepolisian Malaysia. Itulah “kado” dari negeri jiran untuk Indonesia tepat pada hari jadinya yang ke-65. Kado kemerdekaan untuk Selvo, Asriadi, dan Erwan.


Berkenaan dengan insiden ini, berbagai reaksi masyarakat pun bermunculan. Setelah insiden penyiksaan TKI, pelanggaran batas teritori, pencaplokan pulau Sipadan dan Ligitan, dan juga pencurian kebudayaan khas Indonesia, kini kedaulatan negara Indonesia kembali diuji oleh negara serumpun tersebut. Kedutaan besar Malaysia kembali didemo sebagai bentuk protes. Bahkan sampai ada isu tindakan sweeping kapal asing berbendera Malaysia di beberapa pelabuhan.

Dalam sejarah kekhalifahan Islam, ada kisah menarik yang bisa dijadikan pelajaran berharga tentang kedaulatan. Kisah tersebut adalah kisah khalifah Abu Ishaq al-Mu’tashim bin Harun (794 – 5 Januari 842). Beliau merupakan salah seorang Khalifah pada dinasti Bani Abbasiyah (833 – 842). Al-Mu’tashim menggantikan kerabatnya yaitu khalifah Al-Ma’mun. Pada masa kepemimpinannya, beberapa daerah melakukan pemberontakan sehingga cukup membuat sang khalifah kerepotan.

Walaupun begitu, kekhalifahan masih tetap tangguh dalam melindungi kehormatan rakyatnya. Pada tahun 837, al-Mu’tashim Billah menyahut seruan seorang budak Muslimah yang meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan oleh orang Romawi di kota Ammunriah (terletak antara Iraq Utara dan wilayah Syam). Muslimah tersebut kainnya dikaitkan ke paku sehingga ketika berdiri, terlihatlah sebagian auratnya. Wanita itu lalu berteriak memanggil nama Khalifah Al-Mu’tashim billah dengan lafadz yang legendaris: waa mu’tashimaah?! (dimana engkau wahai mu’tashim)?!

Setelah mendapat laporan mengenai pelecehan ini, maka sang Khalifah pun menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Ammunriah dan melibas semua orang Romawi yang ada di sana (30.000 prajurit Romawi terbunuh dan 30.000 yang lain ditawan). Seseorang meriwayatkan bahwa panjangnya barisan tentara ini sangat luar biasa dan tidak terputus. Karena besarnya jumlah pasukan yang dikerahkan, ekor barisannya masih berada di gerbang istana khalifah di kota Baghdad dan ujung barisannya sudah berada di kota Ammunriah.

Setelah menduduki kota tersebut, khalifah memanggil sang pelapor untuk ditunjukkan dimana rumah wanita tersebut. Saat berjumpa dengannya ia mengucapkan “Wahai saudariku, apakah aku telah memenuhi seruanmu atasku ?”. Dan sang budak wanita inipun dibebaskan oleh khalifah serta orang romawi yang melecehkannya dijadikan budak bagi wanita tersebut.

Demikianlah, hanya untuk membela dan melindungi seorang wanita saja, Khalifah Mu’tashim telah mengerahkan puluhan ribu pasukan, dan bahkan menaklukkan bangsa Romawi yang telah melanggar kehormatan rakyatnya. Lalu pasukan yang manakah yang telah dikerahkan oleh pemerintah Indonesia sekarang untuk membela dan melindungi kehormatan rakyatnya yang tertindas dan tergilas oleh kesewenangan Malaysia?

Dalam artikel “Belajar dari Singapura” yang dimuat beberapa hari yang lalu, Lee Kwan Yew, tokoh paling berpengaruh, yang mengubah Singapura menjadi negara yang begitu disegani menyebutkan rahasia kunci kesuksesan negaranya. Salah satu rahasia kuncinya adalah kepemimpinan yang berwibawa, tegas, brilian, dan bijak. Inilah modal dasar yang dijadikan pegangan oleh Singapura untuk menjadikan negaranya disegani oleh negara lain. Pemimpin yang kuat, berwibawa, dan tegas memang sangat melekat dalam diri Lee Kwan Yew dan pemimpin-pemimpin Singapura berikutnya.

Besar harapan dari seluruh rakyat Indonesia, dalam momentum kemerdekaan Indonesia yang ke 65 ini, para pemimpin dan juga calon pemimpin bangsa dapat memiliki karakter kepemimpinan yang kuat, tegas, berwibawa dan berdaulat. Pemimpin Indonesia di masa yang akan datang bukanlah pemimpin yang hanya berani menindas rakyat jelata, menggusur kaum miskin kota di kolong jembatan, bahkan menangkap kakek tua renta yang tak berdaya. Wallahua’lam bishshowwab.***

Penulis:

#FHUNPAD #UNITEDARMY

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s