Posted in tulisan SERIUS

Konsep Advokasi Masyarakat

Oleh : Syamsul Ma’arief

”Manusia kerdil adalah manusia yang hidup hanya untuk dirinya sendiri, sedangkan Manusia BESAR adalah manusia yang hidupnya berguna untuk banyak orang…”

Pendahuluan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, advokasi didefinisikan sebagai pembelaan. Dalam pengembangannya, advokasi merupakan keseluruhan aktivitas yang diselenggarakan dalam rangka pembelaan terhadap masyarakat yang membutuhkan perlindungan, pendampingan dan pemberdayaan hukum. Advokasi juga dilakukan dalam rangka pembelaan terhadap masyarakat yang terampas dan terlanggar hak asasinya.

Tujuan dan Model Advokasi

Advokasi bertujuan untuk melakukan empowerment & community development dalam artian membangun kekuatan masyarakat untuk dapat membela dirinya sendiri, melalui proses pendidikan dan pemberdayaan yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran politik rakyat agar mereka bisa menjadi pembela-pembela yang lebih efektif dan membangun organisasi akar rumput yang lebih kuat.

Advokasi memiliki dua model, yaitu advokasi litigasi dan advokasi non litigasi. Advokasi litigasi adalah proses advokasi yang dilakukan secara legal formal di dalam proses peradilan. Pada umumnya advokasi litigasi hanya dapat dilakukan oleh seorang advokat yang telah memiliki lisensi beracara di pengadilan. Sedangkan advokasi non litigasi adalah advokasi yang dilakukan di luar proses peradilan. Kelebihannya dibanding advokasi litigasi adalah dapat dilakukan oleh siapapun, bahkan yang tidak memiliki latar belakang hukum. Namun selama mempunyai jiwa dan semangat untuk melakukan pembelaan terhadap masyarakat yang tertindas dan terampas haknya, maka advokasi non litigasi ini dapat dilakukan.

Konsep Advokasi Masyarakat

Dalam membangun suatu konsep advokasi, setiap orang pasti memiliki caranya tersendiri. Ada yang dengan terjun langsung di lapangan mengunjungi rumah ke rumah, ada yang memanfaatkan surat pembaca di koran, ataupun dengan membuka posko pengaduan bagi masyarakat. Namun langkah pertama yang menjadi cukup penting dalam memulai proses advokasi adalah kepemilikan data yang akurat dan lengkap mengenai permasalahan yang perlu diadvokasi. Oleh karena itu, kunci pertama untuk melakukan advokasi adalah proses investigasi. Investigasi diperlukan sebagai bahan bakar awal atas setiap permasalahan yang terjadi. Tanpa data dan informasi yang lengkap, proses advokasi hanya akan berjalan tanpa arah dan tujuan.

Setelah mengetahui akar permasalahannya, maka langkah kedua yang perlu dilakukan suatu proses studi kebijakan. Hal tersebut berguna untuk mengetahui aspek mana saja yang menjadi permasalahan. Masalah adalah kesenjangan antara idealita dan realita. Maka studi kebijakan ini untuk memahami idealita yang seharusnya terjadi, kemudian disandingkan dengan realita yang sebenarnya terjadi.

Mulai dari sinilah akan diperoleh suatu gambaran awal untuk melanjutkan proses advokasi. Langkah ketiga adalah melakukan counter atau diseminasi isu atas permasalahan yang terjadi. Langkah tersebut dapat ditempuh dengan melakukan kampanye, propaganda, press release, ataupun surat pembaca. Langkah penyebaran informasi ini menjadi penting agar dapat menggugah rasa keadilan dan solidaritas masyarakat pada umumnya. Contoh keberhasilan langkah ini adalah kasus yang menimpa Prita Mulyasari. Dengan propaganda koin keadilan untuk Prita, rasa keadilan dan solidaritas masyarakat terbangkitkan sehingga bisa menarik perhatian banyak pihak.

Namun advokasi tidak hanya sampai pada penyebaran isu dan propaganda saja. Harus ada langkah nyata untuk melakukan proses empowerment atau penguatan masyarakat pada umumnya agar dapat memperkuat keberaniannya dalam mengadvokasi dirinya sendiri. Langkah keempat tersebut adalah dengan melakukan pelatihan, penyuluhan dan juga penyadaran atas hak-hak masyarakat sebagai warga negara, antara lain hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas, hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan hak-hak lainnya. Dengan adanya perubahan kesadaran, masyarakat akan menjadi semakin kuat dan tercerahkan untuk menuntut haknya yang telah dirampas atau dilanggar oleh pihak tertentu.

Pada fase selanjutnya, seorang advokat (dalam arti orang yang melakukan proses advokasi) harus menyempurnakan narasi advokasinya dengan melakukan langkah kelima, yaitu pendampingan dan pengawasan. Proses pendampingan dan pengawasan perlu dilakukan agar masyarakat merasa percaya diri untuk melakukan proses mediasi dan negosiasi dengan pembuat kebijakan. Proses pendampingan juga perlu dilakukan ketika masyarakat akan melakukan upaya menyatakan pendapat melalui aksi demonstrasi. Hal tersebut bertujuan agar tidak terjadi intimidasi dan provokasi dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Wallahua’lam.

“…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…” (QS Ar-Ra’d : 11)

Bandung, 19 April 2010.

Penulis:

#FHUNPAD #UNITEDARMY

One thought on “Konsep Advokasi Masyarakat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s