Posted in Lembar KAMMI, tulisan SERIUS

Pembangkangan Sipil Imam Al Ghazali

Data Buku
Pengarang : Dr. Majid `Irsan al-Kilani
Judul Asli : Hakadza Zhahara Jil Shalahuddin wa Hakadza ‘Adat al-Quds
Judul Indo : Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib
Penerbit : Kalam Aulia Mediatama, 2007
Penerjemah : Asep Sobari, Lc dan Amaludin, Lc., MA.

Markas KAMMI Pusat, Jl Gugus Depan Matraman Jakarta Timur
Rabu, 31 Maret 2010
Narasumber : Asep Sobari, Lc.
Notulensi : Amin Sudarsono
Peserta : Rijalul Imam, Deny Priyatno, Maukuf, Joko Wardoyo, Yudi Hermawan, Inggar Saputra, Syamsul, Erwin, Vina Nisrina, Sari Kurnia Nur Fath, Yumroni, Kamaludin, Ramli al-Banna.

Rijalul Imam:
Hamdalah, sholawat. Sebelumnya, terimakasih ustadz telah bersedia hadir pada diskusi rutin kita tentang politik dan peradaban. Kami biasa menyebut Halaqah Reboan. Untuk mengawali, tema yang kita angkat sekarang ada korelasi dengan isu yang hangat. Pertama Century, ternyata ada masalah pengambilan kebijakan, yaitu kebijakan yang neolib. Indonesia dijarah luar biasa. Problem pertama peradaban, di tengah Amerika turun, kita ingin peradaban alternatif yang harus menang di muka bumi, yaitu Islam. Buku Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib ada korelasi, yaitu kekuatan yang menginvasi Palestina adalah kekuatan Barat, Romawi. Pada saat yang sama, internal Islam rusak, kesenjangan terlalu luas. Identifikasi persoalannya ternyata sama dengan kondisi saat ini.

Menarik membaca terjemahan ustadz, ternyata Shalahuddin berhasil memenangkan perang global dengan satu konstruk sejarah yang luar biasa. Bukan karena Shalahuddin secara individu yang merebut Palestina, tapi kerja besar generasi. Saat membaca aslinya ternyata lebih obsesif judul aslinya, membuat kita sedih dan meratap. “Beginilah cara generasi Shalahuddin merebut al-Quds,” ini bahasa saya. Dalam konteks aktivis sangat bersemangat. Karena problem kita sama, Palestina masih dikuasai Zionisme.
Ternyata kami juga melihat formula penulisan sejarah di buku ini yang dahsyat. Saya dan Amin berasal dari jurusan Sejarah Peradaban Islam IAIN Sunan Kalijaga, merasa mendapatkan satu konstruk metodologi sejarah yang jarang digunakan di IAIN, karena di IAIN metodenya liberal. Pembacaan perubahan sosial secara sekuler, nggak usah bicara hati dalam sejarah. Di buku ini, ada keikhlasan ketemu penyiapan generasi. Pertemuan masyarakat yang luar biasa.

Spirit yang kita bangun dari diskusi ini adalah bagaimana cara membangun konstruk peradaban di Indonesia. Karena kita sudah merdeka, ternyata faktanya tidak merdeka, kita belum merdeka. Umat Islam masih merasa di luar struktur negara. Rata-rata tema pergerakan Islam di luar masalah negara. Padahal mestinya lebih memimpin. Konstruk ini yang hendak kami bangun. Di sini, kira-kira wacana apa yang harus kita gagas? Kini, seolah yang berhak mengelola negara hanya kaum nasionalis. Itu konteks indonesia.

Sementara internasional, braindrain internasional. Jadi ketika bicara Palestina tidak sekedar berwacana, tapi menyediakan gerakan utuh. Jangan hanya khilafah dalam spanduk, tapi bikin gerakan yang nyata. Tapi itu lebih tertata kalau membaca konstruk sejarahnya. Sebetulnya, ini diskusi yang sudah lama, kami sudah meminta sejak 2009. Saya ingat ketika ada yang meminta diskusi buku ini. Silakan dimulai.

Ustadz Asep Sobari, Lc:

Hamdalah dan sholawat. Saya ucapkan jazakallah khair atas kesempatan berbagi diskusi terbatas, agak lama baru terealisasi. Pertama, saya optimis buku ini sudah dibaca. Ketika kita sudah bicara bisa langsung ke masalah yang bisa ditarik sisi kongkretnya. Beberapa kali saya membedah buku ini—tidak terlalu tebal tapi banyak persoalan yang diungkap, sangat luas.

Kita dipaparkan pada satu model dalam sejarah, bahwa umat Islam itu pada dasarnya, dalam arti normatif benar-benar mendapat jaminan dari Allah sebagai umat yang paling tinggi. Ternyata implementasi keIslaman tiap zaman menjadi berbeda. Tapi di sisi lain, Allah dan Rasul-Nya memberikan satu jalan yang jelas bagi umat Islam untuk menemukan jalan keluar dari bersoalan umat yang sifatnya besar. Misalnya konsep pembaruan, tajdid, juga diberikan semacam yang lebih spesifik lagi, yang menurut saya tidak terbatas ruang waktu, yaitu konsep at-thaifah al-manshurah. Ini konsep dan bukan hanya identitas sebuah kelompok. Meski secara bahasa, artinya “golongan yang diselamatkan. ”

Sebetulnya itu sebuah konsep. Konsep yang memberi jalan agar Islam kembali kepada keunggulannya.
Dan tajdid tidak terlepas dari thaifah ini. Dalam hadits dijelaskan, tidak ada pembaharuan kecuali dalam satu kurun. Di sini, `kurun’ tidak pasti dalam satu waktu tertentu, Qardhawi mengartikan generasi, ada juga 40 tahun. Intinya ini terjadi dalam jeda waktu yang cukup panjang. Nah, dalam jeda itu apa yang bisa diteropong umat Islam. Dari satu tajdid ke yang lain. Itu la tazal, akan selalu. Mereka selalu ditolong, menang karena kebenaran. Para sahabat pun mengkaji masalah ini. Jadi, yang penting, bukan Anda berada dalam kelompok siapa atau bersama siapa, tapi kamu sendirian. Jadi sebenarnya kalau dalam titik nadir juga ada.

Buku ini memaparkan sebuah model yang pernah ada dalam sejarah. Islam pernah terpuruk bahkan jauh lebih dalam dari Bani Umayyah. Itu menunjukkan secara mendasar umat sangat sehat pada masa Umar bin Abdul Aziz. Karena dalam waktu dua tahun, ada perubahan yang mendasar, setelah dari penguasa sebelumnya. Di grass root umat Islam sangat sehat, sampai zakat tak ada yang bisa menerima. Meski ada juga persoalan di tingkat elite.

Saat itu ada masyarakat dari unsur sahabat—yang tersisa sedikit—dan kalangan tabi’in. Secara umum mereka tidak ada masalah. Tapi berbeda dengan periode Shalahuddin. Kurang lebih 400 tahun sesudah itu, pembuktian kurun kehancuran umat Islam terlihat sekali dalam kekalahan di berbagai lini. Pemberontakan Buwaihiyyah yang berorinetasi Syiah Ismailiyyah, juga dinasti Fathimiyyah di Mesir. Yang kondisi ini menguatkan Eropa, yang masuk ke Palestina, saat itulah umat Islam betul-betul rapuh.

Jadi itu adalah momentum pembuktian saja. Konsepsi umat benar-benar rapuh. Kalau melihat cerita tentang perang salib di fase ini mengerikan, bagaimana pembantaian mengerikan, dalam satu hari bisa ratusan ribu dibantai. TANPA ADA PERLAWANAN! Ada pidato dan orasi, tapi mengapa ini tidak membangkitkan umat? Munasharah dimana-mana, tapi umat tidak bangkit. Pertanyaannya kenapa? Butuh waktu 60-an tahun untuk melahirkan generasi.

Dibatasi daerah Syam, kemudian muncul kekuatan yang bisa menghancurkan Dinasti Fathimiyyah—yang pengaruhnya sampai Baghdad. Padahal mereka punya sayap militer. Mereka bekerjasama dengan Hasyasyin—yang kemudian diserap dalam bahasa Inggris menjadi assassin (pembunuh bayaran). Kemudian, sayap militer Qaramithah, ada sayap intelektual Ikhwanus Shafa. Bahkan sampai bisa mengosongkan khilafah dalam satu tahun. Dinasti ini hancur, bukan hanya politik atau kekuasaan. Bahkan masyarakat yang orientasinya Syi’i kembali ke Sunni, ini ada penyehatan yang luar biasa. Serangan ini menghasilkan kekuatan baru di segala bidang—terutama intelektual. Ini fase sejarah yang penting. Bagaimana itu lahir? Pertanyaan besar, bagaimana Shalahudin bisa menang?

Selama ini Shalahuddin dipotong sejarahnya, hanya mengembalikan Palestina. Seakan yang dominan disitu adalah kembalinya kebangkitan Islam dengan kepemimpinan Shalahuddin. Tapi, dia lahir dari mana, dalam kondisi apa, atau itu adalah mu’jizat? Itu persoalan besar. Kalau kita memotong fase sejarah, sejarah Shalahuddin tidak akan terulang. Tapi kalau kita lihat sebelum dan sesudahnya, tampak thaifah manshurah. Ini dari konsep besar dan itu bisa diteropong sampai sepanjang massa.

Yang penting, Abbasiyah sebagai khilafah itu ada. Tapi, di masa itu pula pasukan salib. Terlepas dari masa khilafah ada, generasi Shalahuddin itu lahir. Artinya yang melahirkan Shalahuddin bukanlah khilafahnya, tapi dia lahir dalam konteks.

Shalahudin adalah juru bicara dari generasi yang sudah siap. Kalau bukan Shalahuddin, maka tetap akan ada jubir yang lain. Itu disiapkan generasi sebelumnya yang menyadari kerapuhan, lalu mendiagnosa, terapi dan melahirkan satu generasi. Meskipun mereka tidak merasakan buah dan jerih payah mereka sekian puluh tahun. Itu cakupan besar buku ini.

Buku ini membahas fase-fase yang menurut saya komprehensif yaitu melihat sejarah sebagai sebuah keutuhan, bukan penggalan-penggalan . Jadi, kajiannya bukan model lain dari yang sudah ada. Ini bukan hanya buku sejarah, tetapi FIKIH SEJARAH. Dia memahamkan kepada kita rangkaian-rangkaian peristiwa. Fokus utamanya adalah muslim bisa merebut Palestina. Tapi itu hanya penggalan. Banyak buku yang membahas itu, tapi tidak dalam konteks. Biasanya Shalahuddin jadi aktor tunggal. Di buku ini, cerita Shalahuddin menang kok bisa ya?

Apa yang terjadi di umat Islam selama 80 tahun sebelum kemenangan itu. Masa ketika kalah dengan mudah, dan ketika menang sangat heroik, tidak bisa dibendung Kristen. Apa yang terjadi selama 80 tahun? Buku ini tidak bicara banyak Shalahuddin, lebih banyak bicara umat dibangun lagi, satu tren—bukan hanya satu kelompok orang—arus pergerakan yang dipelopori para ulama yang tahu persis dan mengalami sejarah waktu itu karena keterpurukan.

Mereka membangkitkan semangat umat Islam. Saat munasharah gagal, khilafah tidak eksis. Khilafah tidak langsung menyelesaikan persoalan. Umat Islam berkali-kali terpuruk pada saat khilafah masih ada. Di luar itu justru yang terbangun. Bahkan cenderung melakukan perlawanan sipil yang sangat kuat sekali. Tapi bukan berarti melawan itu semua tidak diterima. Mereka punya prinsip yang jelas saat melakukan kebangkitan. Pemerintah tidak tanggung-tanggung untuk dilawan.

Nah, arus ini sangat kuat. Sulit menunjuk satu aktor tunggal. Cuma, fakta sejarah belum menggambarkan itu. Kalau baca sejarah klasik, yang kita dapati hanyalah kronologi. Tapi, kaitan satu sama lain tidak dijelaskan, melalui buku ini coba dijelaskan, buku ini fikih sejarah. Itu harus dikembangkan. Karena peradaban itu, lebih 1/3 al-Quran adalah kisah. Dan rasul dalam perjalanan dari Makkah ke Madinah, tidak lepas dari arahan sejarah.

Sebelumnya, rasul dipaparkan kisah Nabi Musa secara gamblang. Bagaimana gambaran kaau sudah masuk fase konfrontasi. Dalam al-Quran itu jelas, memberi satu gambaran tentang sunnatullah dalam hubungan manusia dengan setiap kejadian yang terjadi –pada masa itu. Sikap mereka menghasilkan apa dan bagaimana. Ini yang penting bagi rasul untuk merekonstruksi umat sebagai kelanjutan nabi terdahulu.

Juga memberi gambaran pada beliau agar menjadi visioner. Misalnya saat Perang Khandak, yang sudah hampir kalah—10.000 pasukan mengepung kota kecil. Tiba-tiba Rasul katakan, Romawi akan takluk, Persia akan takluk. Itu bukan sekedar persoalan ilham, tapi ada indikator—sunnatulla h—bahwa Quraisy sudah begitu lemah, jadi tanpa kekuatan sendiri tidak bisa menyerang Madinah. Sehingga musuh mempertimbangkan dengan kekuatan sebelumnya.

Lihatkah pada Hudaibiyah, Rasul menerima semua kesepakatan. Dianggap merendahkan oleh para sahabat, tapi Rasul tidak. Menurut Rasul, Quraisy mau tunduk bersepakat damai dengan Madinah itu sudah merupakan sebuah kekalahan. Dan bisa dilihat Makkah sudah lemah. Fathan mubnina itu bukan Makkah, tapi Hudaibiyyah, yang mengantarkan Islam ke kancah internasional. Rasul pandangannya jauh. Sebenarnya, itulah pentingnya sejarah. Mencoba rekonstruksi kejadian yang tampaknya tidak terkait menjadi terkait.

Umat Islam saat dihabisi pasukan Salib, seiring betul dengan lemahnya internal pada abad 4-5 hijriah. Memang ada pada tahun sebelumnya dan itu semakin menurun. Bahwa kerapuhan internal yang membuat umat Islam begitu mudah jatuh, terbukti Palestina. Bukan karena semata kekuatan musuh dari luar, tapi lebih pada kelemahan internal. Itu yang membuat perimbangan dengan luar. Kita secara internal terus turun dan menjadi lemah.

Ini diterjemahkan sebagai fase. Katakanlah, Mongol begitu hebat sehingga Baghdad hancur. Bukan begitu! sebetulnya umat Islam Baghdad sudah lemah. Mongol bisa masuk ke Syiria dan Mesir dan mereka kalah. Jadi kekuatan umat ada di internalnya pertama kali dan ini yang membuat saya berfikir bahwa konspirasi selalu menentukan akhir perjuangan kita. Dan kita menjadi ahistoris.

Sejak umat dibangun selalu ada konspirasi. Kenapa bisa menang, karena internal menang. Nah, ketika yang terjadi di Baghdad dahulu, atau Palestina sekarang, di sini dipaparkan bagaimana keterpurukan sosial, politik. Yang harus digarisbawahi, itu hanyalah gejala, ada masalah yang lebih mendasar—apa itu? Itu yang jarang dalam kajian strategis. Yaitu pemikiran, nilai, keilmuan dan keulamaan.

Karena apa? Pertama, ulama dalah warastatul ambiya. Titik Islam adalah nubuwat, karena ada wahyu dan implementasi. Itulah yang melahirkan peradaban. Bagaimana Khulafaur Rasyidin, mereka memiliki kekuatan legal dan otoritatif ‘alaikum bisunnati wa sunnatil khulafaur rasyidin. Itu yang paling ideal 30 tahun dan harus menginspirasi. Dengan segala kondisinya, umat sejahtera sampai ada konflik antar sahabat, itu tetap masa ideal. Konfliknya tidak ideal, tapi bagaimana menyikapi konflik, itu yang ideal. Bagaimana para sahabat menghadapi hak yang sensitif dan krusial. Itu penting.

Nah, ketika ulama dikatakan sebagai pewaris, sebenarnya misi keulamaanlah yang menjadi susbtansi perjuangan umat Islam untuk betul-betul mempertahankan dan membangkitkan kembali kondisi umat. Nah, misi keulamaan itulah yang mencakup pemikiran, nilai dan pendidikan. Itu yang menjadi sorotan terbesar dari buku ini. Pemaparan lebih banyak diwarnai Imam al-Ghazali dalam hal ini. Imam al-Ghazali mewakili ulama saat itu yang membaca kenapa umat rapuh, buktinya umat Islam begitu rapuh. Imam al-Ghazali butuh 10 tahun untuk membaca sejarah ini, dan buktinya jelas, ada penyimpangan luar biasa. Kata ulama tolong jangan diartikan sebagai ‘ustadz masa kini’, tapi lebih luas.

Ulama menyimpang dari risalahnya yaitu amar makruf nahi mungkar, padahal itu substansi umat. Ukhrijat linas, Allah memberi kemuliaan pada umat. Kuntum generasi awal Islam, ini bukan hanya awal. Kuntum khaira umat, itu sesudah. Tidak akan seluruh generasi itu menjadi mulia, karena ada syarat. Harus amar makruf dan iman. Sayyid Qutb kasih catatan, iman kenapa dimasukkan, karena amar makruf harus melalui sudut pandang yang jelas yaitu iman. Karena baik buruk di mata orang itu berbeda-beda. Itu kalau diserahkan pada manusia, tapi kalau iman ada standar sendiri mana baik mana buruk.

Amar makruf nahi mungkar sesuai sebenar-benarnya. Yang mungkar sudah dieliminasi oleh generasi awal Islam. Maka mereka mulia. Misi para ulama itu memberi penjelasan mana baik mana buruk dan ini akan menjadi corak kebijakan sosial politik, nah yang hilang di masa itu. Ulama sudah tren umum sudah rusak. Maka ada ulama dunia dan akhirat, ada yang terbungkus materi.

Ada pengakuan, setelah Bani Saljuk naik, ulama diangkat oleh penguasa. Awalnya baik tapi akhirnya berujung pada tragis. Ulama melihat posisi mereka di pemerintahan awalnya wasilah (jalan), kemudian menjadi ghayah (tujuan).

Saat itu, mulai hilangnya ulama saleh, yang memberikan pandangan dan penjelasan dalam fenomena kehidupan. Pemerintah mengambil kebijakan tanpa pandangan ulama, politik dan ekonomi rusak. Ini yang menjadi titik persoalan. Imam al-Ghazali akhirnya memutuskan menjadi tabib, dia bukan satu-satunya contoh—tapi memang sangat sulit mencari arus pergerakan masa itu. Imam al-Ghazali memberi pengaruh sangat penting.

Nah gejala-gejala tadi, yaitu kiblat pada politik dan fanatisme madzhab sangat bahaya. Madzhab itu menjadi pengkotakan, identitas sosial, padahal pada awalnya bukan begitu. Tapi fungsinya madrasah pemikiran yang masing-masing punya pendekatan metologi, untuk menyelesaikan persoalan yang tidak ada keterangan langsung dari al-Quran dan Sunnah. Pendekatan itu dilakukan para ulama, mereka satu sama lain, posisinya metodologi perbedaan itu bisa dimaklumi asal dalam kerangka keislaman. Jadi bukan sama sekali identitas sosial, tapi karena lama-kelamaan menjadi penunjang popularitas seseorang atau mencapai jabatan. Misalnya saat itu ada pejabat yang Hambali, semua ikut Hambali, yang lain dipersulit. Masing-masing antara ulama itu lalu bersaing untuk jabatan dan kehormatan. Itu dikritik luar biasa dalam Ihya Ulumudin.

Imam al-Ghazali itu dulu rektor universitas terelit di Nidzamiyyah, sangat penting kebijakannya menentukan. Imam al-Ghazali lalu menyelesaikan itu, pertama membentuk tren pendidikan baru—karena memang awal masalah adalah keulamaan. Ishlah Imam al-Ghazali tahap kedua, yang pertama melalui Bani Saljuk. Jadi dua ishlah model pertama jalur politik melalui Bani Saljuk—lahirnya Nidzamiyyah—tapi itu kerangka politik. Dia tidak sendiri dalam struktur politik. Sehingga ketika terjadi benturan di atas, yang jadi korban adalah pendidikan itu, universitas itu. Ulama yang awalnya ditujukan untik ishlah, akhirnya menjadi tujuan. Akhirnya Imam al-Ghazali keluar, padahal Nidzamiyyah masih hebat.

Imam al-Ghazali bikin madrasah sendiri, pendidikan sendiri, revolusi pendidikan untuk melahirkan generasi yang baru membawa risalah amar makruf. Yang dibahas adalah terminologi konseptual, sederhana dan lazim tapi substansinya mendasar. Misalnya membahas sabar, konseptual, dan itu diajarkan Imam al-Ghazali pada muridnya.

Polanya ada madrasah—untuk keilmuan rasional intelektual. Ribath—asrama didik sebagai miniatur masyarakat untuk mengimplementasikan nilai yang dipelajari di madrasah. Lahirnya generasi Syaikh Abdul Qadir Jailani dan kawan-kawan, mempengaruhi umat Islam dan sampai saat ini. Akhirnya melahirkan pemerintahan sendiri, sultan. Perlu diketahui saat itu khalifah satu tapi simbol. Tapi para sultan yang dibawah khilafah, mereka otonom sekali.

Ada satu sultan di Syam dipimpin Imadudin Zanki—ayah Nuruddin Zanki— paling banyak mengadopsi ishlah ini. Ini terwujud benar. Perlawanan terhadap Palestina yang dikuasasi Kristen sudah dimulai. Ini indikator, perlawanan yang dilakukan Nuruddin Zanki, pasukan salib kedodoran. Menunjukkan umat Islam sudah mulai sehat. Karena ada proses penyehatan mulai dari proses pendidikan.

Ishlah sebetulnya tidak terlalu tepat diartikan reformasi. Jadi gambarannya dalam buku ini, sebelum kebangkitan militer—yang biasanya jadi sorotan. Kesehatan pemerintahan Nuruddin Zanki dari kesehatan ekonomi, sosial, kesenjangan diminimalisir. Bahkan orang asing yang datang, dari manapun datang bisa dengan nyaman mendapat penginapan gratis, ganti kendaraan gratis. Sehat betul. Dan itu tidak terjadi di belahan dunia yang lain. Itu di masa Syaikh Abdul Qadir Jailani, itu kesultanan. Ibaratnya gubernuran. Setiap sultan menyebut khalifah pada shalat Jumat itu cukup, yang lain itu urusan sendiri.

Ada kisah tentang kehidupan pribadi Nuruddin Zanki, di masa itu dia butuh dana besar untuk perang. Dia butuh pajak, reformasi pajak kuat. Dalam ishlah, devisa negara terbatas, bahkan di saat kejayaan Islam masa Utsman—devisa terbatas—hanya dari zakat, ghanimah—yang hanya 20 %, jizyah sangat sedikit dari lelaki produktif saja. Kemudian kharaj lahan negara yang dikelola rakyat, ushur—semacam pajak perdagangan impor ekspor bea cukai. Di luar itu tidak ada. Orang mendirikan bangunan, PPn, PPh, orang jualan apapun, tidak dikenakan apa pun. Mereka hanya bayar 10 % saat masuk pertama selama setahun. Selama di pasar, muslim tidak ada pajak apapun. Pasar dibangun negara, bisa mengambil kios, tapi tidak permanen. Itu fasilitas negara, sebenarnya tidak banyak dari pajak.

Yang jelas, praktek pada berikutnya banyak pungutan, yang disebut dengan maks atau muqus, itu yang di luar yang asli, liar. Nah, saat itu Nuruddin Zanki butuh dana, ulama mengkritik harusnya nggak ada. Nuruddin Zanki menangis, saat itu juga, dia keluarkan semua. Di luar yang syar’i dihapus. Ternyata itu bukan melemahkan, masyarakat makin berani bisnis, semua orang diberi kesempatan sama, tidak ada riswah atau suap, ada peluang yang sama. Malah mereka makmur.

Lalu ditunjang dengan akhlaq. Zuhud, silaturahim, itu adalah instrumen ekonomi sangat penting. Itulah, Imam al-Ghazali kembalikan ke konsep sebenarnya. Zuhud bukan benci dunia, tapi lebih meyakini apa yang di tangan Allah daripada di tangan kita. Saat ada tuntutan, kita tidak berfikir ulang untuk mendanai setiap kebutuhan sosial. Karena orang kaya saat itu mereka zuhud tidak pernah takut dan menghitung-hitung.

Zuhud itu bukan konsep untuk orang miskin, apalagi malas. Tapi orang potensial. Saya kasih, nanti saya untung lagi. Dan saat itu, semua kesempatan terbuka sama. Pada masa Nuruddin Zanki, gerakan wakaf luar biasa. Orang luar akan aman, tidak takut kehabisan bekal, tidak ada copet dan dicukupi kebutuhan tiga hari, mandi air panas disediakan, ganti kendaraan juga bisa dengan yang baru. Itu kekuatan ekonomi, zuhud, silaturahim adalah instrumen ekonomi yang penting. Itu yang hilang sekarang, juga sebelum masa Nuruddin Zanki. Dengan kondisi itulah muncul militer yang kuat.

Penyakit sudah dibuang. Masalah keilmuan, konsepnya seperti apa, ekonomi, gaya hidup, semua berpengaruh. Yang penting ulama jangan mendunia, ulama menjadi arus yang spiritual, menyehatkan gejala yang tadinya sakit.

Nuruddin Zanki itu Hanafi, Ibnu Qudamah salah satu murid Syaikh Abdul Qadir Jailani itu Hambali, Shalahuddin itu Syafii. Itu bisa dalam satu arus kerjasama. Ini bisa terbayangkan. Padahal sebelumnya, perbedaan mazhab merupakan sumber perpecahan. Kalau hakim dari Hanafi, seorang dari mazhab Hambali. Hakim bilang, kalau ada kambing di kampung sebelah—Syafii, kamu ambil. Luar biasa, demikian parah betul. Perbedaan dan kotak gerakan. Sampai sekarang masih ada juga, mereka tidak akan menikahkan anak-anaknya dengan madzhab yang berbeda. Misi keulamaan menyediakan hak.

Dulu tasawuf dengan fikih berseberangan. Tawawuf merasa memegang kendali spiritual, intelektual fikih. Tasawuf bilang fikih hanya kulit, fikih bilang tasawuf bodoh. Imam al-Ghazali melihat, gabungkan semuanya, gabungkan antara fikih dengan tasawuf. Tren yang sama. Kita lihat perkembangan masa itu dan itu melahirkan generasi baru ulama, yang kemudian berperang besar dalam pergerakan militer.

Jenderal-jenderal Nuruddin Zanki adalah murid madrasah dari daerah Hakkari, tergabung dalam organisasi Syaikh Abdul Qadir Jailani, yang orang sekarang pahami sebagai maqam tasawuf yang membuat muktamar tahunan pada musim haji. Saat melihat Palestina, mereka melihat Fathimiyah yang Syiah, ini melihat jalur yang paling mudah dengan Eropa. Syiah membiarkan terbuka. Maka, tutup dulu jalur Eropa dengan Palestina dengan men-sunni-kan Mesir. Nuruddin Zanki bergerak, lalu berhasil setelah beberapa tahap. Asadudin Syirkuh pertama—paman Shalahuddin.

Itu tujuh tahun fasenya. Tapi sebelumnya, murid Syaikh Abdul Qadir Jailani sudah bergerak. Mereka berdakwah agar kembali ke Sunni. Nuruddin Zanki, melalui Asadudin Syirkuh dan Shalahuddin menyerang, ketika diselesaikan di atas, di bawah sudah selesai. Ini perpaduan yang sangat indah. Pergerakan di grass root itu lebih panjang dan lama.

Rijalul Imam:

Saya melihat kesalahan mempersepsikan, Syaikh Abdul Qadir Jailani terlalu tinggi, dia sebagai tokoh spiritual saja. Kok dipahaminya sangat mistis, padahal di buku itu pergerakan yang rasional dan luar biasa sangat aktual.

Asep Sobari, Lc:

Faktor pecahnya usai Syaikh Abdul Qadir Jailani, yang trennya menggabungkan spiritual dengan rasional. Kemudian pecah lagi, tren rasional ke Ibnu Qudamah dan lalu Ibnu Taimiyyah. Spiritualnya ke Qadiriyyah. Syaikh Abdul Qadir Jailani sendiri tidak begitu. Sebetulnya ada disertasi penulis buku ini yang menjelaskan Qadiriyah sejak madrasah sampai tarekat saat ini. Ini perlu dikaji secara komprehensif.

Tentang Syaikh Abdul Qadir Jailani dan Imam al-Ghazali. Sosok ini kontroversial, secara akademik dan dunia Islam. Imam al-Ghazali lebih diidentikkan filosof, pengkritik filsafat, juga sufi yang pasif. Itu melahirkan umat yang apatis terhadap kondisi umat Islam saat itu. Tulisan Imam al-Ghazali tentang umat Islam yang sedang mengalami dilema peradaban, buku-buku Imam al-Ghazali tidak ada satupun yang menyebut jihad. Itu yang membuat orang-orang menyebut Ghazali pasif. Padahal, di buku ini, Imam al-Ghazali adalah tokoh sentral gerakan peradaban—jihad. Militer tidak berdiri tanpa aspek lain yang sehat.

Menarik juga di buku ini, Imam al-Ghazali tidak menyebut jihad, itu iya. Tapi yang jelas tidak ada ajakan yang heboh dari Imam al-Ghazali untuk berjihad secara militer. Menurut penulis buku, itu justru pemahaman yang mendalam atas persoalan masanya. Itu adalah orang sekarang. Yang sekarat nggak bisa melakukan apapun, apalagi jihad. Dan itu yang luar biasa dari Imam al-Ghazali. Dia sangat paham akan kondisi masanya. Yang dia hantam adalah aliran kebatinan. Karena bahayanya adalah penafsiran dan teks.

Kebatinan punya metodologi tafsir yang sangat rancu. Namanya kebatinan ya metodologinya nggak ada. Al-Quran ditafsirkan mereka sebagai normatif dan tidak mengakar. Padahal, al-Quran riil sekali, al-Quran bicara tentang apa dan kemana. Itu dikembalikan Imam al-Ghazali, dia menghantam kebatinan. Dan saat itu, orang yang mengkritik kebatinan ancamannya luar biasa. Kebatinan sebuah aliran, waktu ancamannya bisa dibunuh, Hasyasyin termasuk gerakan kebatinan. Imam al-Ghazali sangat berani. Ilmu kalam yang lebih pada jadal (perdebatan) teologi, masalah akidah dan tauhid menjiwai justru menjadi wacana. Itu dikritik Imam al-Ghazali lewat bukunya. Itu akar persoalan umat.

Imam al-Ghazali dalam prakteknya, melakukan pembangkangan sipil. Membuat tren pendidikan sendiri, radikal revolusioner, dengan materi dan kurikulumnya. Meski secara disiplin fikih, tafsir, biasa, tapi ada pemurnian dalam hal ini. Nah, yang menjadi pertanyaan, apa yang menjadi dasar pemikiran Imam al-Ghazali dari yang dilakukan itu? Selain pengalaman sejarah.

Imam al-Ghazali memiliki landasan filosofi yang mendalam, dari hadits Rasul terdapat pendekatan amar makruf nahi mungkar saat kepentingan publik tersedot oleh kepentingan kelompok. Saat yang bermain di umat hanya beberapa kelompok. Idza roaita… wahanan mutaba’an—dan nafsu diikuti, dan setiap orang cerdik pandai membanggakan pendapatnya sendiri, dan tidak bisa menyatu dalam satu bagian interaksi. Muncul ego dan rivalitas, di saat kondisi itu engkau tidak bisa menyelesaikan semuanya. Maka jangan terjun atau berfikir terjun selesaikan semuanya. Tapi, mundurlah, sibukkan dirimu dengan urusan pribadimu. Bersama orang-orang yang seide, tinggalkan yang umum. Mundur dari tren, tidak ikut berdebat, meski ramai orang berdebat. Tidak perlu mengumbar argumentasi ketika argumentasi hanya sebagai komoditas.

Jika tidak mungkin memperbaiki, jauh lebih besar kapasitasnya, maka mundur. Pertama membuat evaluasi internal, lalu komunikasi seide, setelah mampu kapasitas yang sesuai, kembali ‘audah ke arus. Membuat arus. Maka setelah 10 tahun itu, Imam al-Ghazali dan teman-temannya membuat madrasah sendiri. Imam al-Ghazali dihujat, buku-bukunya dibakar di Maroko. Tapi, orang yang terinspirasi Imam al-Ghazali menghafal Ihya Ulumudin bagaikan al-Quran. Imam al-Ghazali membuat arus baru.

Kalau kita berfikir, terus kalau gitu kita tidak peduli? Kita tetap peduli, dalam kapasitas terbatas, tidak semua potensi dicurahkan pada persoalan yang sulit. Jangan masuk ke medan fitnah (yaitu suatu masalah yang tidak ada ujung pangkal yang bisa diselesaikan) , misalnya terbunuhnya Utsman, sahabat tidak tahu bagaimana, tapi perang harus diselesaikan. Sikap ini hebat.

Intinya, dalam kondisi fitnah seperti itu, ide dan nilai, hanya bagian dari komoditas. Orang hebat dan cerdas, diterima idenya hanya untuk menguntungkan— pengiklan, televisi, dll. Itu sayang, maka Imam al-Ghazali lebih baik membangun. Sepuluh tahun dia membangun, lalu kembali membentuk madrasah sendiri. Bahkan Imam al-Ghazali, saat itu ada kaum Murabithin di Maroko, dengan gagasannya tentang kesatuan umat. Jadi Imam al-Ghazali bukan mundur pasif, dia paham betul bagaimana menyelesaikan persoalan ke akar. Mundur sementara, merasa cukup dan membuat arus, yang dikembangkan Syaikh Abdul Qadir Jailani.

Syaikh Abdul Qadir Jailani membuat madrasah pusat, lalu ke cabang, mereka punya tren pemikiran yang sama. Mereka punya kerangka ishlah yang sama. Maka ketika mereka dapat kesempatan Nuruddin Zanki, semua dipasok madrasah ini. Misalnya Hakkar, jenderal berasal dari murid-murid Syaikh Abdul Qadir Jailani. Mereka masuk ke politik. Saat itulah ulama kembali ke politik dengan wacana, konsep dan pandangan hidup yang berbeda. Itulah yang membedakan kesultanan Nuruddin Zanki. Bagaimana mereka menyelesaikan Fathimiyyah yang sudah 300 tahun berdiri. Diselesaikan dua gerakan yang tampaknya terpisah, tapi harmonis dan tujuan yang sama.

Jika kita ingin menyelesaikan hanya dengan cara politik, saya yakin akan gagal. Waktu itu kekuatan Nuruddin Zanki dan Shalahuddin tetap butuh tujuh tahun. Sebenarnya di bawah (grass root) bersama rakyat jelata ada Ibnu Najah dan kawan-kawan yang bergerak. Tidak menyelesaikan masalah sendiri. Saya merasa, gambarannya sekarang semua instrumen seakan menjadi bagian dari struktur politik atau bagian politik. Itu kerugian besar, tafaqquh dan yang membentuk pandangan hidup tidak menjadi prioritas. Padahal itu adalah penunjang.

Rijalul Imam:

Usia antara kita dengan generasi Imam al-Ghazali hampir satu milenium. Ulama merupakan waratsatul anbiya. Baik, ada yang mau ditanyakan?

Maukuf:

Kalau ana melihat, ada tulisan akh Rijalul Imam tentang Sulaiman. Ana ingin memetakan yang tadi disampaikan pada titik tertentu. Ana lihat dua masa, kelam dan terang. Ana melihat buku ini adalah peta kebangkitan. Shalahudin memiliki modal dasar, kompetensi dasar apa yang ada di sana. Daya dukung dan sumberdaya strategisnya apa saja?

Daya dukung yang ana lihat hanya alim ulama, belum ada yang lain. Apakah itu saja? Untuk kebangkitan peradaban, basisnya ilmu. Kedua, jika kita kaitkan dengan kondisi saat ini, Indonesia mau bangkit darimana? Padahal banyak para ulama. Jangan-jangan masa ini justru misteri masa kelam itu?

Asep Sobari, Lc:

Yang ditonjolkan masa itu adalah ulama. Tapi jangan ditafsirkan ulama itu mubalig atau ustadz di masa sekarang. Karena sekarang dikotominya sudah terlalu kuat. Dan itu didukung oleh fakta. Seorang yang belajar fikih, bisa dikatakan sebagai ulama. Padahal belum tentu tahu tentang tafsir. Atau sebaliknya. Atau guru besar sejarah Islam Indonesia, mengomentari sejarah awal Islam dan hasilnya rancu, muncul kesalahan besar.

Sebelum menguasai Palestina, Nuruddin Zanki sudah membuat mimbar yang kemudian diletakkan di mihrab Masjidil Aqsha. Itu visi. Dan yang paling memahami Nuruddin Zanki adalah Shalahuddin. Saat Nuruddin Zanki mati agak goyah, tapi Shalahuddin bisa menyambungkan kembali antara Mesir dengan Syam. Kekuatan Shalahuddin pelanjut dari Nuruddin Zanki. Yang unik juga, para jenderal saat itu adalah murid madrasah. Mereka menguasai ilmu syar’i. Struktur negara dipasok oleh murid madrasah. Bukan sekedar ulama dalam konteks, tapi masalah keilmuan. Hal ini berbeda dengan masa sebelumnya, dimana siapa yang ganas, bisa jadi jenderal.

Masuk bagian doa Rasulullah. Kita minta agar jangan sampai dunia menjadi hasrat kami yang tertinggi dan puncak pencapaian kami. Kalau sekarang, dalam dunia pendidikan, link and match kan kesana. Filsafat pendidikan jauh, itu yang bikin ilmu jadi rendah. Itulah, karena manusia pola dan trennya materialistis. Yang paling tinggi bayarannya adalah artis, host acara TV. Kalau guru ngaji ongkosnya hanya bensin. Intinya ini lebih pada tren masyarakat. Para ulama keikhlasan dijunjung tinggi.

Saya kemarin bayar SPT, dimasukkan sebagai pengusaha. Saya bilang, saya guru ngaji, masak disamakan dengan pengusaha. Karena tidak ada pekerjaan tetap. Kalau pengusaha ada berlembar-lembar kertas yang harus ditandatangani, masak saya disamakan pengusaha. Hahaha.

Dalam masa Zanki, selama 50 tahun, banyak menghasilkan banyak tokoh besar yang kontributif terhadap perubahan. Ini sunnatullah, bahwa tidak ada satupun, individu, etnik atau bangsa yang dicipta untuk terbelakang. Tinggal, bisa nggak dia menguasai sunnatullah untuk bangkit. Dan itu yang diajarkan Islam.

Di jaman jahiliyyah, susah lahir pemimpin, kalau lahir toh dari gen tertentu. Tapi, ketika Rasul membangun dalam kurun 15 tahun lebih, bisa melahirkan 40 jenderal, kurang lebih yang dalam 99 % perang itu menang. Dan mereka dari gen berbeda-beda, dari orang yang dianggap maupun tidak dianggap dari struktur sosial. Dan, disitulah kekuatan Shalahuddin. Mereka tahu harus bagaimana.

Deny Priyatno:
Insihab (mundur) itu kan kontemplasi. Bisa membaca seluruhnya secara utuh. Bagaimana secara utuh. Negeri ini harus melakukan redefinisi. Saya pikir ini pas. Gerakan pemuda seperti apa yang harus lahir? Kita membicarakan kekinian. KAMMI menciptakan madrasah itu di sini. Di gerakan kalau berkiblat pada politik saja bagaimana?

Asep Sobari, Lc:

Kalau kita inginkan lahir Imam al-Ghazali sekarang itu susah. Thaifah manshurah itu konsep Mahdi. Imam Mahdi akan datang bukan pada saat umat berantakan. Mahdi datang sebagai rangkaian, dia datang sudah melalui tahap, umat sudah rapi. Bahan-bahan itu ada, dan itu ditakuti Barat. Mereka tahu dan sadar betul, peradaban itu bergulir, karena itu mereka tidak ingin ada yang menyadari hal itu. Meski teks-teks Islam—al-Quran, hadits, dan sejarah—tafsirnya dikuasai mereka.

Saya menganggap serampangan terhadap penulisan sejarah Islam yang selalu identik dengan militer. Padahal sejarah itu bukan hanya militer. Ada yang lebih kokoh dari sekedar itu. Coba bayangkan, bagaimana kekuatan militer bisa menyaingi Persia dan Romawi? Padahal baru 15 tahun usia Islam? Bagaimana strategi Umar menguasai, bukan memperbanyak tentara, tapi dengan gerakan keilmuan. Jaman Umar bahkan sangat kuat. Seusai perang baru jadi guru ngaji. Abu Darda’ itu, setiap malam ada 1.200 orang di masjidnya. Ada 120 halaqah, satu halaqah 10 orang. Kita bagaimana?

Perang yang diterjuni Rasulullah ada 28, selama hidup ada 80 perang. Tapi, tetap lahir puluhan ribu hadits. Padahal, ada 10 perang dalam setahun, kalau dipikir, kapan beliau bicara. Kalau hanya militer, kapan beliau bicara tentang cara masuk WC, tentang cara makan? Ini yang luput dari kita sejak sekarang, yaitu peradaban ilmu. Jadi, sampai dimana kita? Tugas regenerasi dalam Islam. Walaupun tidak ada generasi mendatang yang lebih baik dari sebelumnya. Ini tugas kolektif.

Usamah bin Zaid tidak canggung. Sekarang, anak muda canggung karena ada senioritas. Saya tertarik menulis buku pemimpin muda. Pasukan Usamah sangat hebat, di bawahnya ada para senior. Membuat anak muda percaya diri tapi tahu diri. Misi Usamah sukses betul. Saat menggerakkan pasukan ke Syam. Mereka berfikir, Madinah lemah, tapi kok memberangkatkan ribuan orang untuk melawan Romawi? Justru karena itu, daerah utara itu tidak ada yang murtad. Mereka justru berfikir, wah ini berarti Madinah kuat sekali. Romawi bahkan tidak berani menyerang Madinah.

Jadi, nggak usah bikin tokoh muda. Cukup tokoh saja. Asal kapasitas keilmuannya memadai. Tahun 2014 itu kekosongan calon pemimpin Indonesia. Itu juga sudah banyak prediksi. Kalau dulu itu sudah bisa dilihat, bisa diteropong. Masa Nuruddin Zanki sudah bisa diprediksi. Kalau kitasekarang kebanyakan menunggu satu generasi habis, baru berfikir pengganti. Wallahu a’lam. KAMMI harus kesana mustinya.

Rekomendasi ada di halaman belakang buku ini. Mereka yang merumuskan adalah orang cerdas. Dan mereka berpengaruh, mereka juga soleh. Ada kesinambungan yang kuat, misalnya ikhlas dalam showab. Aspek ketepatan. Tidak cukup kita syar’i. Ini adalah cermin dari al-Quran dan sunnah. Kita dalam framework tauhid, implementasinya bagaimana Rasul menjalankan agama ini. Agama itu kan aspek praktis. Sirah adalah praktek, bukan hanya item per item. Kita bisa memandangnya dalam sirah. Generasi tabi’in bercerita, kami diajari sirah sebagaimana ayah kami mengajarkan al-Quran kepada kami. Insihab (mundurlah), dan bangun peradaban!

Rijalul Imam:
Banyak yang berminat untuk schooling tapi tidak berminat learning. Hanya sekolah saja.

Asep Sobari, Lc:

Kalau tentang kehausan pada ilmu, masih sama. Tapi tujuan berilmu bergeser. Kekacauan pada masa Umayyah dan Abbasiyyah juga sudah terjadi, tapi tetap saja tradisi keilmuan muncul. Sebenarnya saat itu pandangan tentang ilmu itu jelas. Belajar tidak pernah berhenti. Imam Nawawi kan ada di masa kacau. Hampir di ujung kekuasaan Abbasiyyah. Kalau Ibnu Taimiyyah, lahir 4 tahun di ujung Baghdad hancur. Tapi ilmu dipentingkan keluarga mereka. Itu adalah tradisi, ilmu begitu tinggi dan begitu mulia.
Masalahnya sekarang adalah tujuan kelimuan dan risalah keulamaan tidak terealisasi. Intinya, ada disfungsi keilmuwan dan ulama. Tapi masa kelimuan sampai abad 10 masih kokoh. Tapi setelah itu keilmuan terpuruk.

Lihat fragmen ini. Ibnu ‘Aqil yang hidup di awal Perang Salib disebutkan kalau makan memilih yang lembek dan cepat masuk. Karena dia harus menulis lagi. Pada masa itu, lapar bukan jadi persoalan. Makan bukan menjadi kegiatan yang khusus, sampai nggak sempat mereka. Ad-Dzahabi menyebutkan, dia menemukan jilid ke-401 dari buku Ibnu ‘Aqil. Padahal jelas nggak menulis saja pekerjaannya. Dia punya aktivitas lain. Demikian juga at-Thabari, 84 tahun usianya punya buku hingga 500 jilid.

Rijalul Imam:
Saya mengutip Hery Nurdi: saya tidak khawatir dengan muslim di Palestina, karena mereka tetap bisa beribadah, kualitas keimanan meningkat, hafalan lancar, anak banyak. Tapi, saya justru lebih khawatir muslim di Indonesia, yang kualitasnya minim. Menurut saya, insihab jangan kolektif. Mundur jangan semuanya.

Asep Sobari, Lc:

Saya tidak setuju juga kalau perjuangan wilayah politik dikosongkan. Hanya orientasinya yang harus jelas: peradaban. Bukan hanya material. Misalnya Syaikh Abdul Qadir Jailani, punya madrasah markaziyah yang cabangnya ada di mana-mana. Lalu diambil yang potensial, ditariknya ke Baghdad, karena selain ibukota juga banyak ulamanya, lebih kongkret. Contohnya Ibnu Qudamah dari Palestina—anak pengungsi—ditarik ke Baghdad selama 2 tahun, lalu berguru setelah Syaikh Abdul Qadir Jailani meninggal, lalu kembali ke Baitul Maqdis.

Revolusi pendidikan itu bentuknya ya pesantren. Sebagai sebuah sistem, pesantren diakui di Indonesia, bisa independen dan punya racikan kurikulum sendiri. Aspek moral lebih terasa dibanding sekolah umum. Masalahnya, bagaimana membuat pemerataan gerakan itu. Makanya, braindrain itu kalau dibuat polanya akan sangat relevan. KAMMI punya melting pot. Jangan hanya dikumpulkan dalam seminar, tapi kesosialan juga.

Rijalul Imam:

KAMMI ada 47 cabang, satu di luar negeri yaitu Jepang. Dulu ada rencana madrasah markaziyah. Intelektual di jogja, jaringan jakarta, sosial preneur di solo. Kita mencoba bangun itu. Masalahnya adalah tim instruktur. Kita tidak punya murabbi sekualitas zaman Nuruddin Zanki itu. Kita tidak ada murabbi yang siap membina sekaligus connect dengan materi gerakan. Dari pengkajian menjadi pengajian. Semoga bisa segera teralisasi, dan KAMMI meniru peradaban masa Zanki.[]

Data Buku
Pengarang : Dr. Majid `Irsan al-Kilani
Judul Asli : Hakadza Zhahara Jil Shalahuddin wa Hakadza ‘Adat al-Quds
Judul Indo : Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib
Penerbit : Kalam Aulia Mediatama, 2007
Penerjemah : Asep Sobari, Lc dan Amaludin, Lc., MA.

Penulis:

#FHUNPAD #UNITEDARMY

6 thoughts on “Pembangkangan Sipil Imam Al Ghazali

  1. bagus artikelnya…

    punten, background yg sebelah kiri layar, bikin sedikit gak nyaman bacanya,,,,hoho

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s