Posted in 1

SEJUMPUT ASA BAGI PAHLAWAN DEVISA

Pahlawan Devisa. Itulah gelar yang senantiasa disematkan bagi para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri. Betapa tidak, pada tahun 2006 hanya dalam waktu satu tahun saja, TKI telah menyumbang devisa kepada Negara sebesar Rp. 60 Trilyun! Sungguh merupakan angka yang sangat fantastik.

Namun prestasi cemerlang itu tidak mendapat penghargaan sebagaimana mestinya. Air susu dibalas dengan air tuba. Langkah pertama kedatangannya di tanah air, para TKI mendapat perlakuan diskriminasi dengan mendapat “kandang” khusus yang bernama terminal III. Dengan dalih untuk melindungi TKI dari pungutan liar, pemisahan ini justru malah semakin menyuburkan pungutan liar tersebut. Dalam logika sempit, pemisahan ini ibarat kebijakan apartheid yang mendiskriminasikan antara orang kulit putih dan kulit hitam.

Tapi ternyata tindakan diskriminasi ini hanya sebagian kecil penderitaan yang harus ditanggung oleh para pahlawan devisa ini. Penderitaan terbesar mereka terima ketika masih bekerja di luar negeri. Pada bulan Februari 2009 saja terdapat 44 kasus yang menimpa TKI di luar negeri. Mulai dari gaji yang tidak dibayar, penyiksaan oleh majikan, pemerkosaan, kecelakaan kerja, penipuan, pemerasan, hingga pulang tak bernyawa dalam peti jenazah.

Kisah tragis seorang TKI yang bernama Ceriyati kontan menyentak kesadaran kita semua. Dengan menyambung kain menjadi temali, Ceriyati berusaha kabur dari lantai 15 apartemen majikannya. Ceriyati tidak tahan lagi dengan siksaan dari majikannya. Selain Ceriyati, nasib tragis juga menimpa TKI asal Garut, Siti Hajar. Kasus penyiksaan Siti terbilang sangat kejam. Selain disiram dengan air panas, Siti juga dipukuli hingga babak belur. Janda dua anak itu juga tidak dibayar selama 34 bulan. Sehingga kedua anaknya yang sekolah praktis tak pernah mendapat kiriman uang.

Selain mendapat penganiayaan secara fisik dari majikannya, penderitaan TKI juga semakin bertambah dengan adanya pungutan liar dari pihak PJTKI. Hampir semua TKI atau buruh migran Indonesia mengalami potongan gaji secara ilegal. Potongan ini disebutkan sebagai biaya penempatan dan “bea jasa” yang diklaim oleh PJTKI dari para TKI yang dikirimkannya. Besarnya potongan bervariasi, mulai dari tiga bulan sampai tujuh bulan, bahkan ada yang sampai sembilan bulan gaji. Tidak sedikit TKI yang terpaksa menyerahkan seluruh gajinya dan harus bekerja tanpa gaji selama berbulan-bulan. Praktik ini memunculkan kesan bahwa TKI adalah bentuk perbudakan yang paling aktual di Indonesia.

Berbagai kecaman dan kritikan pun bermunculan. Pemerintah dinilai lemah dan lamban dalam melakukan advokasi dan pembelaan terhadap TKI yang berada di luar negeri. Seluruh duta besar di negara pengguna TKI seolah sepakat satu suara menyatakan bahwa “semua baik-baik saja”. Padahal tidak sedikit yang sedang meregang nyawa. Menanggapi hal tersebut, maka dibentuklah Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (disingkat BNP2TKI). Lembaga ini merupakan sebuah Lembaga Pemerintah Non Departemen di Indonesia yang mempunyai fungsi pelaksanaan kebijakan di bidang penempatan dan perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri secara terkoordinasi dan terintegrasi. Lembaga ini dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2006 yang merupakan amanat dari Undang-undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri.

Adapun yang menjadi tugas pokok BNP2TKI adalah melakukan penempatan atas dasar perjanjian secara tertulis antara Pemerintah dengan Pemerintah negara Pengguna TKI atau Pengguna berbadan hukum di negara tujuan penempatan. Selain itu, BNP2TKI juga bertugas memberikan pelayanan, mengkoordinasikan, dan melakukan pengawasan mengenai: dokumen, pembekalan akhir pemberangkatan (PAP), penyelesaian masalah, sumber-sumber pembiayaan, pemberangkatan sampai pemulangan, peningkatan kualitas calon TKI, informasi, kualitas pelaksana penempatan TKI, dan peningkatan kesejahteraan TKI dan keluarganya.

Yah, teori indahnya memang seperti itu. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang cukup pandai merangkai kata romantis dengan janji gombal yang menjemukan. Maka sehebat apapun peraturan yang diciptakan, jika tidak ditunjang oleh perbaikan mental dan kinerja yang baik oleh seluruh pihak terkait, korban akan terus berjatuhan. Dan gelar pahlawan devisa tampaknya sudah lebih dari cukup untuk membalas segala pengorbanan keringat, darah dan air mata dari para TKI tak berdaya. Wallahua’lam.

Penulis:

#FHUNPAD #UNITEDARMY

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s