Posted in Lembar KAMMI, Lintasan Berita, Renungan Kehidupan

Nasib Tragis Para Pahlawan Pendidikan

Karyana (38), menumpang tinggal di bilik sederhana, belakang ruang kelas Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ikhlas.
Karyana (38), menumpang tinggal di bilik sederhana, belakang ruang kelas Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ikhlas.

………………………………….
Kenapa, ketika orang menangis, kami harus tertawa?/
Kenapa, ketika orang kekenyangan, kami justru kelaparan?/
…belajar menahan lapar, hidup sebulan dengan gaji hanya sehari…/
………………………………….

KOMPAS.com — PETIKAN puisi Melahirkan Kembali Indonesia Raya karya Prof Winarno Surachmad yang dibacakan kembali Minerva Boni Avibus (7), siswa SD Negeri Banjarsari, Bandung, menggetarkan jiwa ratusan guru di Gedung Indonesia Menggugat.

Hati mereka menjerit mendengar puisi yang dibacakan dengan sangat apik dan menyayat jiwa ini. Sebagian dari mereka, bahkan laki-laki, tidak kuasa menahan emosinya. Air mata luluh di pipi begitu bocah berkacamata ini memekikkan, Bolehkah kami bermimpi didengar ketika berbicara? Dihargai layaknya manusia…?

Boleh jadi, kalimat puisi ini terlalu berlebih-lebihan dalam menggambarkan kondisi pendidikan, khususnya guru. Tapi, sedikit banyak, kenyataannya itulah yang terjadi saat ini. Tidak percaya? Lihat saja nasib guru bantu daerah terpencil (GBDT) di Jawa Barat saat ini.

Hampir dua bulan ini mereka hidup tanpa digaji. Honor yang hanya Rp 750.000 per bulan tidak lagi mereka terima. Padahal, dengan diterimanya secara rutin honor itu, hidup mereka sudah sangat sulit. Perkaranya, mereka harus membiayai anak istri. Belum lagi, untuk biaya operasional mengajar yang bebannya tentu lebih berat dari guru PNS di perkotaan.

Iwan Nugraha (27), GBDT asal Cirebon, bercerita kepada Kompas bahwa dirinya terpaksa mengajar sambil mengojek. Dia beralasan, itu dilakukannya untuk menutupi biaya bensin, Rp 15.000 per hari dari rumahnya (Cirebon) ke tempat mengajar di Indramayu.

“Sekalian berangkat, sekalian mencari tumpangan. Kalau tidak begitu, mana cukup buat honor menutupi ongkos?” ujar Iwan lirih.

Dengan sedikit malu, ia pun mau bercerita, jika dirinya ternyata memang betul-betul menekuni profesi ojek, bukan sekadar cari tumpangan. “Kalau sedang ramai dapat Rp 20.000-Rp 35.000 per bulan,” tuturnya lemah.

Penghasilan yang minim, namun biaya yang dibutuhkan besar, memaksa para guru-guru bermental baja ini memutar otak dan menanggalkan rasa malu untuk mencari penghasilan tambahan.

Asep Komarna (30), GBDT asal Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang, pernah menyambi menjadi sopir hingga tukang cukur rambut demi mencari tambahan penghasilan. Di rumahnya, ia membuka salon potong rambut. Selepas pulang mengajar, dari sore hingga malam hari, Asep yang beristri guru honorer, selalu berharap ada pengunjung yang mau mampir memakai jasanya.

Dari pekerjaan ini ia bisa dapat hingga Rp 20.000 per hari yang sangat berguna untuk membiayai hidupnya dan keluarga.

“Guru-guru PNS saja bertugas di tempat kami tidak akan betah. Mereka paling lama satu tahun sudah pindah. Tetapi, kami diberi honor segitu saja masih bisa bertahan,” tutur Endang Kartiwa, GBDT yang bertugas di wilayah terpencil di pesisir pantai Karawang.

Masihkah kita, apalagi pemerintah, mau menutup mata dan telinganya?

diambil dari :
Laporan wartawan KOMPAS Yulvianus Harjono
Rabu, 29 Juli 2009 | 22:06 WIB
http://regional.kompas.com/read/xml/2009/07/29/22061087/Dari.Ngojek.sampai.Pencukur.Rambut……

Penulis:

#FHUNPAD #UNITEDARMY

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s