Posted in tulisan SERIUS

Keikhlasan Dalam Proses Regenerasi Kepemimpinan

Oleh Syamsul Ma’arief

Ketua Umum KAMMI Daerah Bandung periode 2008-2010

Bismillah…

“…Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim…”

(QS Ali Imran : 140)

Malam kemarin (16/06) saya membaca status yang ditulis oleh seorang qiyadah di sebuah organisasi. Isinya ucapan perpisahan kepada seluruh orang yang telah memberinya dukungan dan doa selama beliau menjabat sebagai pimpinan tertinggi organisasi tersebut. Sangat dewasa, gentle, dan menggambarkan mental negarawan. Beragam tanggapan pun berdatangan, mulai dari yang salut, sakit hati, bahkan sampai mencaci maki pihak yang telah mengkudetanya.

Sebelum menanggapi hal tersebut, ada baiknya kita renungkan kembali peringatan dari Allah SWT :

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Maa’idah : 8 )

Regenerasi kepemimpinan adalah suatu hal yang niscaya dalam sebuah organisasi. Baik dengan jalur formal maupun informal. Ada yang lengser karena memang habis masa jabatannya, ada juga yang dilengserkan sebelum waktunya karena telah melanggar anggaran dasar dari organisasi tersebut. Untuk cara yang pertama, mungkin suatu hal yang biasa, tapi tidak dengan cara yang kedua. Pelengseran sebelum waktunya pasti akan menyisakan rasa sakit hati, marah, kecewa, bahkan dendam. Mungkin sang qiyadah sudah ikhlas atas keputusan tersebut, tapi mungkin tidak dengan para pengikut atau pendukungnya.

Maka diperlukan suatu kedewasaan dalam bersikap. Tidak selamanya hal yang kita anggap baik, bermakna baik pula di hadapan Allah. Begitupun sebaliknya.

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al Baqarah : 216)

DR. Aidh Abdullah Al Qarni dalam salah satu tulisannya mengatakan bahwa berapa banyak sebuah bencana yang kemudian berubah menjadi anugerah kenikmatan. Senantiasa ada kebaikan dalam suatu keadaan yang tidak disukai. Dahulu, orang tua kita Adam A.S. pernah memakan buah dari sebuah pohon dan ia menentang perintah Rabbnya. Karena pelanggaran itu, ia pun diturunkan dari surga ke muka bumi. Secara lahir, peristiwa ini menyebutkan bahwa Adam meninggalkan sesuatu yang sudah sangat baik dan benar. Adam dalam kisah itu eksplisit terjerumus dalam suatu keburukan. Tapi ternyata, akibat dari peristiwa itu justru kebaikan yang luar biasa, dan karunia yang sangat agung.

Allah SWT kelak menerima taubatnya, lalu memberi petunjuk kepada Adam A.S., dan memilihnya menjadi seorang Nabi yang kelak menjadi rahim lahirnya keturunan para Nabi, para Rasul, para ulama, para syuhada, para wali, para mujahidin, para ahli ibadah, dan lainnya. Subhanallah, maha suci Allah…

Maka kini yang diperlukan adalah suatu keikhlasan dalam beramal, kelapangan dalam memaafkan, dan kecintaan dalam berukhuwah. Karena bukankah kita semua bersaudara?

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS Al Hujuraat : 10 )

Dan yang terpenting adalah peningkatan ketakwaan kepada Allah SWT. Karena hanya dengan takwa lah kita semua akan mendapat rahmatNya. Kemudian dari rahmatNya lah kita akan dimasukkan ke dalam surgaNya. Tujuan hakiki kita.

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (Dikatakan kepada mereka): “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman. Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya.” (QS Al Hijr : 45-48)

Sebagai penutup, saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan mengutip apa yang dikatakan oleh Nabi Allah Musa A.S., sebagaimana yang tercantum di dalam Al-Qur’an :

Musa berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.”

(QS Al A’raaf : 151)

Wallahua’lam bishshowwab… Alhamdulillah…

Bandung, 17 Juni 2009

Penulis:

#FHUNPAD #UNITEDARMY

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s