Diposkan pada Lintasan Pikiran, Renungan Kehidupan, tips

Misprioritas Amal

Pemahaman yang benar insya Allah akan mengantarkan kepada amal yang benar pula.. salah satu kekeliruan yang sering kali kita jumpai adalah misprioritas amal..
 
Dalam beberapa diskusi saya pernah ditanya, mana yang harus diprioritaskan antara dakwah atau kuliah? pulang berbakti pada orang tua atau membantu kepanitaan acara ketika liburan? aksi atau skripsi? aisyah atau maisyah? (set dah, polemik bener hidup ente bro? haha..)
 
Padahal sejatinya kita tidak boleh membenturkan 2 amal yang sama2 baik dan penting..dakwah itu penting, tapi sebagai mahasiswa, kuliah juga gak kalah penting.. jangan sampai jadi macan kampus dengan IPK nasakom (nasib satu koma)..
 
Ikut Aksi itu penting, tapi skripsi juga sangat penting.. udah gak zaman akhtivis itu DO fii sabilillah.. sekarang zamannya Cum Laude fii sabilillah.. akhtivis berprestasi dengan IPK 4,5 hapal qur’an, rajin menabung dan tidak sombong tentu lebih menjadi buronan calon mertua daripada Mahasiwa Abadi penguasa kantin dan mushola kampus..
 
Lalu bagaimana solusinya? apakah dengan membagi prioritas? misalnya aktivitas dakwah 50%, kuliah 50%? ya keliru juga, nanti semuanya hanya dapat 50% lah..dakwahnya gak beres, IPK nya cuma dapat 2.. gak ada solusi lain ya semuanya harus totalitas..aktivitas dakwah 100%, kuliah 100%..
 
Lho kan tangan saya hanya 2 kang? apakah harus menguasai dulu jurus Kage bunshin no Jutsu seperti Naruto?!” dik, nonton kartun boleh, tapi bego jangan..haha..
 
Berdasarkan pengalaman saya dihukum 7 tahun di Fakultas Hukum UNPAD (ciee..mantan Mahasiswa Abadi..haha), ternyata kuncinya adalah PENGATURAN SKALA PRIORITAS.. bagi aktivitas harian kita dalam 4 prioritas :
1. Penting dan Mendesak (misalnya menyelesaikas tugas deadline, UAS, dsb)
2. Mendesak, tapi gak Penting (angkat jemuran pas hujan)
3. Penting, tapi gak Mendesak (tugas yang baru harus dikumpulkan pekan depan, kepanitiaan acara bulan depan)
4. Gak Penting dan Gak Mendesak (nonton kartun, rapihkan bulu mata)
 
Contoh skala prioritas di atas bisa jadi berbeda di antara kita..tapi yang penting adalah pastikan skala prioritas tersebut sesuai dengan rencana hidup kita.. belum punya rencana hidup? BUAT SEKARANG.. karena klo kita gak punya rencana hidup, maka kita akan jadi korban rencana hidup orang lain.. selamat menata amal..
 
-SYM-
mantan Mahasiswa Abadi
Iklan
Diposkan pada 1, Lintasan Pikiran, Renungan Kehidupan

“Sikap Isbal”

Ada pendapat menarik yang disampaikan Ust Adi Hidayat dan Buya Yahya dalam menyikapi isbal (berpakaian melebihi mata kaki bagi pria)..
Pada intinya kedua ulama tersebut bersepakat bahwa menghindari isbal dan menghindari kesombongan adalah sikap yang utama..
Tapi ada juga sikap lain yang tidak kalah penting, yaitu menjaga lisan dan sikap agar tidak ikut-ikutan “isbal”.. jangan sampai celananya tidak isbal, tapi mulutnya “isbal”..
Berdakwah yang diiringi dengan hawa nafsu bisa menyebabkan seorang Da’i mengatakan kebenaran dengan cara yang keliru.. akibatnya bisa jadi orang lain membenci Islam bukan karena muatan syariatnya, tapi karena “isbal”nya lisan dan sikap dari para Da’i nya..
Coba diresapi kedua nasihat ini :
1. “Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah (lemah lembut) dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
2. “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)
Anjurannya, bersikaplah lemah lembut.. lembut bukan berarti lembek lho ya.. banyak koq yang bisa tetap tegas dalam kelembutannya.. misalnya seperti seorang ibu yang bergumam lembut (dengan mata melotot) ketika melihat kenakalan anaknya.. hehe..
-SYM-
anak muda yang masih kurang sabaran
Diposkan pada Lintasan Pikiran, Renungan Kehidupan

Seni Menikmati Hidup

Alhamdulillah khutbah Jum’at siang ini luar biasa.. jarang2 dapat rezeki ilmu dan hikmah pas jum’atan (karena godaan tarikan gravitasi bulu mata yang begitu kuat..hehe..)

intinya khatib menyampaikan bahwa seringkali manusia itu baru beribadah dan mendekat kepada Allah ketika mengalami ujian dalam kehidupan.. tapi justru menjadi lalai dan lupa diri ketika mendapatkan kemudahan dan kelapangan dalam hidup..

sederhananya, apa harus diuji dulu dengan sakit, kelaparan, kemiskinan dan cobaan hidup lainnya, baru kita beribadah dan mendekat kepada Allah ??

padahal Rasulullah sudah mengingatkan juga kepada kita untuk mengingat 5 perkara sebelum datangnya 5 perkara :
1. sehat sebelum sakit;
2. muda sebelum tua;
3. kaya sebelum miskin;
4. lapang sebelum sempit; dan
5. hidup sebelum mati.

jadi jangan nunggu haji 2 kali buat beramal soleh.. ibadah jangan dinanti2, khawatir keburu mati.. jangan nunggu kaya buat sedekah..dsb

lalu bagian mananya yang disebut Seni Menikmati Hidup ? khatib menjelaskan bahwa kuncinya ada pada sikap Qonaah, yaitu merasa cukup dan bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan..

dengan sikap qonaah, maka mustahil seorang mukmin melakukan korupsi, yang berasal dari sikap tamak alias serakah.. mukmin yang qonaah akan mencari keberkahan dari setiap rezekinya.. ia juga akan menjadikan setiap aktivitasnya sebagai ibadah.. belajarnya bagian dari ibadah.. kerjanya mencari nafkah juga ibadah.. bahkan lelahnya pun beroleh berkah.. masya Allah..

hayu ah kita mulai menikmati hidup yang sebentar ini.. jangan membuang waktu untuk hal yang kurang bermanfaat.. move on bro, rek kitu wae hirup teh? 😅

-SYM-
hamba yang masih terus berjuang melawan rasa kantuk pas Jum’atan