Posted in hukum tips

Perlindungan Konsumen dari Klausula Baku

perlindungan konsumen

Oleh : Syamsul Ma’arief*

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin sangat akrab dengan peraturan sepihak yang ditetapkan oleh pelaku usaha.

Misalnya ketika membeli suatu barang biasanya ada ketentuan yang berbunyi : “Barang yang sudah dibeli, tidak dapat ditukar atau dikembalikan”. Atau ketika memarkir kendaraan, ada ketentuan yang berbunyi : “Kehilangan atau kerusakan kendaraan bukan menjadi tanggung jawab Pengelola Parkir.”

Biasanya kita langsung menerima dan pasrah saja ketika berhadapan dengan peraturan sepihak tersebut. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen menyebut peraturan sepihak ini dengan “Klausula Baku” yaitu “setiap aturan atau ketentuan dan syarat-syarat yang telah dipersiapkan dan ditetapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh pelaku usaha, yang dituangkan dalam suatu dokumen dan/atau perjanjian yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen”.

Padahal dalam Pasal 18 ayat (1) dan (2) Undang-Undang tersebut, dinyatakan bahwa pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa yang ditujukan untuk diperdagangkan, dilarang membuat atau mencantumkan klausula baku pada setiap dokumen dan/atau perjanjian yang dapat merugikan konsumen.

Klausula baku yang dapat merugikan konsumen tersebut antara lain :

  1. Pengalihan tanggung jawab pelaku usaha;
  2. Penolakan pelaku usaha untuk menyerahkan kembali barang yang dibeli konsumen;
  3. Penolakan pelaku usaha untuk menyerahkan kembali uang yang dibayarkan konsumen;
  4. Pemberian kuasa kepada pelaku usaha untuk melakukan segala tindakan sepihak terhadap barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran;
  5. Pengurangan manfaat jasa atau harta kekayaan konsumen yang menjadi obyek jual beli jasa.

Lebih lanjut, pelaku usaha juga dilarang mencantumkan klausula baku yang letak atau bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas, atau yang pengungkapannya sulit dimengerti. Untuk kasus ini, biasanya ditandai dengan tanda “bintang” (*) yang bertuliskan “Syarat dan Ketentuan Berlaku”. Tulisannya biasanya berbentuk huruf yang kecil dan tidak terbaca secara jelas.

Maka, terhadap seluruh klausula baku yang telah ditetapkan secara sepihak oleh pelaku usaha, dan berpotensi merugikan konsumen, berlaku akibat hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (3) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, yaitu “Batal Demi Hukum”. Akibatnya, semua peraturan dan ketetapan yang dicantumkan dalam klausula baku tersebut dianggap tidak pernah ada, tidak membawa akibat hukum dan tidak dapat dieksekusi.

Apabila ada pelaku usaha yang melanggar ketentuan Pasal 18 ayat (1) dan (2) tersebut, yaitu dengan tetap mencantumkan klausula baku yang merugikan konsumen, maka pelaku usaha yang bersangkutan dapat dikenakan sanksi administratif dan sanksi pidana.

Adapun sanksi pidana yang dapat dijatuhkan kepada pelaku usaha adalah sebagaimana diatur dalam Pasal 62 ayat (1), yaitu pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Rp 2.000.000.000,00 (dua milyar rupiah). Bahkan dalam Pasal 63, pelaku usaha dapat dijatuhi hukuman tambahan berupa perampasan barang, pembayaran ganti rugi, hingga pencabutan izin usaha.

Demikian sekilas informasi mengenai “Perlindungan Konsumen dari Klausula Baku”. Semoga bermanfaat. Fiat Justitia Ruat Coelum.

*Penulis adalah Advokat Magang di LBH PAHAM Jawa Barat

 

 

 

Posted in Lintasan Pikiran, Renungan Kehidupan

Cita Rasa Bahasa

alus goreng ku Basa

ungkapan tersebut merupakan nasihat yang sangat luar biasa dalam komunikasi. maknanya kurang lebih baik atau buruknya sebuah komunikasi, tergantung kepada bahasa yang digunakan. maka tidak berlebihan pula jika ada yang mengatakan : “mulutmu harimaumu”, karena sekali terucap, maka kata tersebut sulit untuk ditarik kembali. bagi yang terlanjur tersakiti dengan perkataan kita, mereka mungkin dapat memaafkan, tapi tidak dapat melupakan. seperti paku yang telah ditancapkan di kayu. meskipun dapat dicabut, namun tetap akan meninggalkan bekas.

dalam budaya daerah, bahasa biasanya memiliki tingkatan kehalusannya sendiri. dalam budaya Sunda misalnya, setidaknya saya memahami ada 5 tingkatan kehalusan bahasa, yaitu :

  1. sangat halus, biasanya dipergunakan oleh kalangan bangsawan terhormat dan terdidik
  2. halus, biasanya dipergunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua
  3. normal/wajar, biasanya dipergunakan untuk berkomunikasi sehari-hari dengan teman seusia
  4. kasar, biasanya dipergunakan oleh kalangan rakyat jelata dan tidak terdidik
  5. sangat kasar, biasanya dipergunakan untuk binatang

nah, dari tingkatan kehalusan bahasa tersebut, seseorang dapat dinilai tingkat intelektualitasnya. orang terdidik biasanya memiliki cita rasa bahasa yang baik. jadi jika ada yang terbiasa berbicara dengan bahasa kasar, yah dapat diketahui bahwa orang tersebut mungkin adalah orang tidak terdidik.

begitu pun dalam rangka menyampaikan nasihat kebaikan. Rasulullah yang mulia mengajarkan kita untuk tetap lemah lembut ketika berucap. kalau pun sedang marah, usahakan berkata dengan ucapan tegas dan jelas, bukan dengan caci maki atau sumpah serapah. #NtMS

mari berpikir sebelum berbicara. milikilah cita rasa bahasa sebagaimana pesan Nabi : “berbicara yang baik atau diam”.🙂

Salam Inspirasi

@eL_Bandung

 

Posted in Lintasan Pikiran, Renungan Kehidupan

#Tarbiyah Selera Gue

  1. #Tarbiyah itu mencerdaskan dg pemahaman,bukan menyesatkan dg dogma
  2. #Tarbiyah itu setia pd kebenaran objektif,bukan pd pembenaran subjektif
  3. #Tarbiyah itu bernafaskan cinta & kasih sayang,bukan kebencian & dendam
  4. #Tarbiyah itu mendekatkan diri pd Tuhan,bukan menjadikan diri sbg Tuhan
  5. #Tarbiyah itu berwajahkan keteladanan pengorbanan,bukan topeng penipuan
  6. #Tarbiyah itu sikap ksatria meminta maaf,bukan caci maki apologi
  7. #Tarbiyah itu introspeksi diri,bukan memvonis diri korban konspirasi
  8. #Tarbiyah itu tobat nasional,bukan galau nasional
  9. #Tarbiyah itu Bersih, Peduli dan Profesional
  10. #Tarbiyah itu Cinta, Kerja dan Harmoni

Bandung 11 Desember 2013

Syamsul Ma’arief
(Yang masih mencintai dan percaya pada Tarbiyah)

tarbiyah