Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza.
Tapi, aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku.
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mendalawangi.

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang.
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra.
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya.
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu.

Mari sini, sayangku.
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa.

Soe Hok Gie
11 November 1969

Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran

Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi

Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?

Soe Hok Gie
Harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973

Akhirnya semua akan tiba pada pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku.

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah Mandalawangi.
kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

Apakah kau masih membelaiku selembut dahulu
ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra,
lebih dekat.

(lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tau dan terlena dalam mimpinya
kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti Jakarta kita)

apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta

(haripun menjadi malam kulihat semuanya menjadi muram
wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
dalam bahasa yang tidak kita mengerti
seperti kabut pagi itu)

manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan
dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru.

Soe Hok Gie
Selasa, 1 April 1969

Tips Menyimpan Buku

Posted: 1 Agustus 2011 in tips
Tag:, , ,

Koleksi bukumu sudah terlalu banyak? Disimpan dimana sekarang? Di dalam kotak kardus? Aduh, jangan deh. Hindari menyimpan buku-buku terlalu lama di dalam kotak kardus.

Banyak kotak kardus mengandung asam (acid). Asam dari kotak kardus itu bisa pindah ke buku. Akibatnya, buku kita bisa berubah warna jadi kekuning-kuningan. Sayang kan? Lebih baik, siapkan rak buku yang ukurannya cukup untuk menyimpan koleksi buku-buku kita.

Agar terbebas dari debu, kotoran, dan musuh-musuh buku lainnya, banyak yang menyarankan agar rak buku tertutup. Supaya tetap gampang dilihat, sebaiknya pintu penutupnya terbuat dari kaca. Cuma, buku-buku itu jangan sampai terkurung rapat tanpa sirkulasi udara. Buku-buku kita akan mudah lumutan jika disimpan tertutup tanpa sirkulasi udara.

Kalau rak buku itu terbuat dari kayu, pastikan bahwa rak itu cukup kokoh agar cukup tahan menanggung bobot buku-buku yang berat untuk jangka waktu yang lama. Dan pastikan juga bahwa kayunya diberi lapisan. Kayu yang tidak berlapis bisa mengeluarkan uap asam yang membahayakan.

Kita bisa memilih desain rak buku model apapun. Tapi perhatikan satu hal: level paling bawah rak buku juga harus berjarak beberapa senti meter di atas lantai agar terhindar dari genangan air kalau terjadi banjir kecil.

Rak buku sebaiknya tidak langsung menempel ke dinding yang bersebelahan dengan bagian luar rumah. Kasih jarak beberapa senti meter antara rak dengan dinding agar tidak terganggu oleh suhu dan kelembaban ruangan luar yang bisa berubah-ubah dengan cepat.

Letakkan rak buku di tempat yang terhindar dari sorotan langsung sinar matahari, atau cahaya lampu lainnya. Terutama cahaya yang mengandung ultra violet (UV). Buku akan cepat rusak kalau terlalu sering terkena UV: warna buku bisa jadi pudar. Buku lebih menyukai cahaya yang redup, dan bahkan gelap.

Ruang tempat menyimpan buku juga sebaiknya tidak terlalu lembab dan tidak terlalu panas. Suhu dan kelembaban yang terlalu tinggi bisa memunculkan reaksi asam yang akan membuat kertas menjadi busuk. Kelembaban di bawah 40% bisa membuat kertas menjadi kering dan rapuh. Sedangkan kelembaban di atas 60% bisa membuat kertas menjadi lembek dan menimbulkan pembusukan asam.

Suhu sekitar 68 derajat F dan kelembaban sekitar 50% sering dianggap lingkungan yang ideal buat buku. Yang tak kalah penting, hindari suhu dan kelembaban yang naik turun cukup tinggi (fluktuatif), yang juga bisa menjadi penyebab kerusakan buku. Itu sebabnya, seringkali disarankan agar buku disimpan dalam ruangan ber-AC agar bisa mengendalikan suhu dan kelembabannya.

Rawatlah ruang tempat penyimpanan buku dengan baik. Sebaiknya jauhkan buku dari makanan. Pertimbangkanlah juga untuk menjauhkan tanaman dari rak buku. Ingat, buku mengandung zat organik yang menarik serangga dan binatang pengerat. Akan repot urusannya kalau -selain mampir ke makanan atau tanaman- serangga-serangga itu juga ikut menyantap kerta-kertas buku kita.

Letakan buku di rak dalam posisi berdiri. Buku memang dirancang untuk diletakan
dalam posisi berdiri. Jangan pernah meletakan buku dengan posisi punggungnya menghadap atas. Dengan posisi begitu, tekanan gravitasi akan membuat kerapatan jilid buku menjadi kendor; ujung-ujungnya, kertas-kertas buku bisa lepas dari jilidnya.

Salah satu kebiasaan buruk yang sering kita lakukan adalah menumpuk buku di atas buku-buku lain. Kelihatannya praktis dan baik-baik saja. Tapi, sebetulnya, kebiasaan itu bisa merusak buku kita. Beban buku yang berada di atas akan menekan buku di bawahnya sehingga jilid buku mudah lepas.

Selain ditata berdasarkan topiknya, koleksi buku kita juga sebaiknya ditata berdasarkan ukurannya. Kelompokan buku-buku kita berdasarkan tingginya. Jika ada buku pendek diapit oleh buku yang lebih tinggi, maka buku-buku yang lebih tinggi itu akan cepat rusak. Terlebih kalau deretan buku itu cukup padat dan ketat, buku yang lebih tinggi akan bengkok-bengkok punggungnya.

Kalau jumlah koleksi buku kita belum bisa memadati rak buku, gunakan pengapit buku (bookend). Buku yang dijejer terlalu longgar di rak buku, akan mudah roboh dan rusak. Pilihlah bookend yang tipis supaya bisa menyelip dengan mudah di bawah buku.

Sering-seringlah membersihkan buku dan rak buku. Kemoceng dan penyedot debu bisa dipakai. Pakailah kain yang bersih, kering dan halus ketika buku dibersihkan. Hati-hati, cermati konstruksi buku kita. Jangan sampai niat kita untuk membersih buku malah membuatnya menjadi rusak.

Koleksi buku kita adalah harta karun kita. Jadi, memang, harus dirawat supaya tahan lama.

Sumber: KutuBuku.com
Link: http://pustaka-hanan.blogspot.com/2009/11/tips-menyimpan-buku.html

Oleh : Syamsul Ma’arief S.H.
(Sekjend PW KAMMI Jabar, Aktivis Rohis)

 

Beberapa bulan terakhir masyarakat cukup dihebohkan dengan mencuatnya kembali isu gerakan bawah tanah Negara Islam Indonesia atau sering disingkat NII. Melalui metode cuci otaknya, korban yang berjatuhan tidak hanya orang dewasa, tapi sebagian besar adalah para remaja dan pemuda yang berusia antara 13 – 25 tahun. Dari pengakuan beberapa mantan pengikutnya, diperoleh keterangan terkait penyimpangan yang ada dalam ajaran organisasi tersebut. Mulai dari mengkafirkan orang lain –bahkan orang tuanya sendiri- yang tidak sepaham atau belum bergabung dengan organisasinya, diperbolehkannya mencuri barang milik orang lain yang dianggapnya kafir, diperbolehkannya menipu, berzina, bahkan berbohong demi menunaikan kewajibannya untuk membayar iuran wajib dari organisasinya. Yang paling parah adalah tidak diwajibkannya melaksanakan ibadah wajib seperti shalat dan puasa dikarenakan belum berdirinya negara Islam sebagai penegas dan penegak ajaran syariat Islam.

Seluruh ajaran sesat tersebut jelas bertentangan dengan syariat Islam itu sendiri. Menegakkan syariat Islam hukumnya memang wajib terutama bagi pemeluknya. Namun kewajiban tersebut tidak lantas menjadi alasan pembenar maupun alasan pemaaf untuk menghalalkan segala cara seperti berbohong, menipu, mencuri bahkan berzina demi mewujudkan misinya tersebut.

Sejauh pengalaman penulis selama aktif di dunia rohis SMA dan juga dunia aktivis di kampus, setidaknya ada tiga landasan mendasar yang dapat dijadikan panduan ataupun pedoman dalam mengikuti organisasi Islam. Tiga landasan ini juga mungkin bermanfaat bagi orang tua maupun remaja dalam rangka menangkal aliran sesat yang berkedok organisasi Islam.

Landasan yang pertama adalah landasan salimul aqidah atau aqidah yang bersih dan lurus. Organisasi Islam yang baik adalah organisasi yang mengajarkan kepada para pengikutnya untuk memiliki aqidah yang bersih dan lurus. Aqidah yang meyakini tiada Tuhan selain Allah dan meyakini bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Dengan aqidah yang bersih dan lurus ini maka seorang manusia akan memahami hakikat penciptaannya sebagai manusia yaitu untuk menjadi hamba Allah dan menjadi khalifah di muka bumi. Dengan salimul aqidah ini juga para pengikut organisasi ini akan diingatkan untuk menjauhi dosa-dosa besar seperti syirik, membunuh, berzina, mencuri, mabuk, berjudi dan sebagainya. Maka merebaknya organisasi Islam yang mengakui adanya Nabi baru atau yang memperbolehkan pengikutnya untuk mencuri dan berbohong, merupakan organisasi yang bertentangan dengan ajaran syariat Islam yang berlandaskan salimul aqidah.

Landasan yang kedua adalah landasan shahihul ibadah atau ibadah yang benar. Ibadah merupakan salah satu kewajiban sebagai bentuk penghambaan manusia kepada Allah sang Maha Pencipta. Wajibnya ibadah tidak terhalang oleh ruang dan waktu. Walaupun tinggal di negara mayoritas non muslim pun ibadah tetap harus dijalankan. Maka organisasi Islam yang baik adalah organisasi yang senantiasa memotivasi pengikutnya untuk bersemangat mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, berzakat, berhaji dan juga melaksanakan ibadah sunnah lainnya sebagaimana dianjurkan oleh Rasulullah S.A.W. Organisasi Islam yang baik juga akan berusaha menjauhkan para pengikutnya dari penghambaan kepada selain Allah, seperti pergi ke dukun, meminta karomah kepada kuburan atau tempat keramat ataupun mempercayai jimat sebagai penolong dan penolak bala. Pemurnian ibadah ini berkaitan erat dengan landasan yang pertama salimul aqidah demi menjaga kemurnian aqidah dari segala bentuk takhayul, bid’ah dan khurofat.

Landasan yang ketiga adalah landasan matinul khuluq atau akhlaq yang mulia. Salah satu cahaya keindahan Islam adalah keindahan akhlaq seorang muslim, tidak hanya kepada saudaranya sesama muslim, tapi juga terhadap seluruh umat manusia dan lingkungan sekitarnya. Organisasi Islam yang baik akan mengajarkan kepada para pengikutnya untuk senantiasa menghormati dan berbakti kepada kedua orang tua, menepati janji, menjaga silaturahim dan adab pergaulan, menghindari tempat dan perbuatan maksiat dan juga kebaikan akhlaq lainnya. Dengan akhlaq yang mulia ini, maka seseorang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Landasan matinul khuluq ini juga mengajarkan kepada pengikut suatu organisasi Islam untuk bersikap dewasa dan bijak atas suatu perbedaan, menghormati keragaman dan bertoleransi terhadap sesama umat beragama. Tidak dibenarkan melakukan tindakan kekerasan atau main hakim sendiri, apalagi sampai melakukan penganiayaan secara fisik bahkan pembunuhan yang menghilangkan nyawa manusia. Astaghfirullah.

Sebuah Upaya

Dengan berpedoman pada ketiga landasan tersebut, maka para orang tua diharapkan dapat melakukan upaya prefentif atau pendeteksian dini jika melihat anaknya terindikasi mengikuti suatu organisasi yang beraliran sesat atau radikal. Seorang anak yang biasanya periang dan senang bergaul, mendadak berubah menjadi pemurung dan mengasingkan diri. Waspadai juga bila anak sudah mulai terbiasa berbohong atau tidak pulang ke rumah selama beberapa hari tanpa kabar dan berita.

Anak yang menginjak usia remaja memang berada pada kondisi yang labil. Pada fase ini, anak akan mulai mencari identitas diri, idealisme, idola dan juga seluruh aktifitas dan perilaku yang ia anggap unik dan menarik. Maka sejak dini ajarkanlah anak untuk mengenal Tuhan dan Nabi nya. Tuhan tempatnya meminta dan berlindung. Nabi yang menjadi teladan idealnya sebagai manusia. Ajarkan pula anak untuk beribadah dengan baik dan benar. Dan yang terpenting ajarkanlah anak untuk menjadi manusia seutuhnya, manusia yang beradab, manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai akhlaq yang mulia serta bersikap dewasa dengan bertoleransi terhadap seluruh umat manusia. Jika ini semua bisa dilakukan, semoga tidak ada lagi aliran sesat dan radikal yang dapat merusak masa depan kita baik secara pribadi, keluarga maupun bangsa. Wallahua’lam.***